Fakta vs Mitosmitos atau faktamitos vs fakta

Mitos vs Fakta: Benarkah Kehujanan Langsung Membuat Seseorang Sakit? Ini Penjelasan IDAI

Jakarta — Ketika musim hujan tiba, tak jarang muncul keprihatinan di masyarakat tentang kesehatan, terutama asumsi bahwa kehujanan secara langsung menyebabkan sakit. Persepsi ini sering muncul di percakapan sehari‑hari ketika seseorang mengalami flu, demam, batuk, atau pilek setelah terpapar hujan. Namun, benarkah air hujan itu sendiri menjadi penyebab penyakit? Badan kesehatan profesional menegaskan bahwa anggapan tersebut sejatinya merupakan misinterpretasi yang umum.

Menurut ahli dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), hujan bukan penyebab langsung penyakit, tetapi perubahan lingkungan yang menyertai kondisi hujan dapat menciptakan situasi yang mempermudah seseorang menjadi lebih rentan terhadap infeksi. Hal ini berbeda dengan kepercayaan umum yang langsung menghubungkan hujan dan penyakit tanpa dasar ilmiah.

Air Hujan Tidak Langsung Menyebabkan Penyakit

Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, SpA, Subsp IPT(K), seorang pakar dari IDAI, menjelaskan bahwa hujan pada dasarnya hanyalah tetesan air dari atmosfer, dan tidak memiliki komponen mikroorganisme penyebab penyakit secara otomatis. Permasalahan muncul ketika seseorang kehujanan lalu mengalami kondisi dingin dan lembap yang bisa memengaruhi daya tahan tubuh.

“Air hujan itu sendiri tidak membuat orang sakit secara langsung. Namun, kehujanan dapat memicu stres termal — kondisi ketika tubuh kedinginan — sehingga imunitas menurun sementara. Dalam situasi ini, virus atau bakteri yang sudah ada di lingkungan cenderung lebih mudah menyerang tubuh,” ungkap Prof. Anggraini dalam pernyataannya pada acara media virtual.

Bagaimana Lingkungan Musim Hujan Menciptakan Risiko

Fenomena hujan seringkali diikuti oleh beberapa kondisi lingkungan yang dapat meningkatkan peluang seseorang mengalami infeksi. Meski bukan karena air hujan itu sendiri, gabungan kondisi berikut menimbulkan risiko:

  • Perubahan suhu yang drastis: saat hujan turun, suhu di sekitarnya cenderung menurun. Tubuh yang tiba‑tiba terpapar suhu lebih rendah akan menurunkan respons imun sementara.
  • Kelembapan udara tinggi: kelembapan yang meningkat memberikan lingkungan yang lebih mendukung bagi penyebaran virus pernapasan.
  • Kontak dengan permukaan yang terkontaminasi: genangan air hujan dapat bercampur dengan kotoran atau limbah sehingga menjadi media bagi berbagai mikroba patogen.
  • Perubahan perilaku: saat hujan, banyak orang cenderung berkumpul di dalam ruangan tertutup, yang secara tidak langsung memperbesar peluang penularan virus dari orang ke orang.

Kondisi lingkungan seperti ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga umum di berbagai negara tropis dan subtropis ketika curah hujan tinggi serta sanitasi kurang ideal.

Virus dan Bakteri Bukan Datang dari Hujan

Imunitas tubuh merupakan garis pertama pertahanan terhadap penyakit. Jika daya tahan tubuh menurun akibat paparan dingin atau stres fisik, mikroorganisme yang sudah berada di lingkungan dapat lebih mudah masuk dan berkembang biak. Ini juga menjadi alasan mengapa penyakit saluran pernapasan sering meningkat selama musim hujan — bukan karena hujan itu sendiri, tetapi kombinasi faktor lingkungan dan fisik yang memengaruhi tubuh.

Sebagai contoh, virus influenza atau rhinovirus yang menyebabkan flu dan pilek mudah menyebar dalam kondisi kerumunan di ruang tertutup karena orang cenderung berkumpul saat hujan turun. Tidak ada bukti ilmiah bahwa tetesan air hujan membawa virus itu secara langsung dari langit ke tubuh manusia.

Perbedaan Risiko antara Hujan di Perkotaan dan Perdesaan

Kandungan polutan udara di daerah perkotaan dapat memengaruhi kualitas air hujan yang turun. Polusi udara yang tinggi di kota besar seperti Jakarta atau Bandung dapat menghasilkan partikel kimia yang tertangkap oleh hujan, sehingga air yang jatuh bisa membawa residu polutan. Ini berbeda dengan daerah yang memiliki polusi rendah, di mana risiko paparan zat berbahaya melalui hujan relatif lebih kecil.

Namun perlu ditekankan kembali bahwa polutan udara ini bukan virus atau bakteri yang menyebabkan penyakit seperti flu atau demam; partikel polutan lebih berkaitan dengan iritasi saluran napas atau gangguan pernapasan jika terpapar dalam jangka panjang.

Praktik Pencegahan Jika Terkena Hujan

IDAI menekankan pentingnya tindakan pencegahan sederhana ketika hujan deras tiba — terutama bila seseorang, khususnya anak‑anak, kehujanan. Ada beberapa langkah yang dapat membantu menjaga kesehatan dan mencegah turunnya imunitas:

  1. Segera menghangatkan tubuh: setelah kehujanan, pakaian basah sebaiknya segera diganti dengan pakaian kering dan lebih hangat.
  2. Mandi dengan air hangat: ini dapat membantu membersihkan tubuh dari kotoran dan polutan yang menempel, sekaligus menjaga suhu tubuh stabil.
  3. Cuci tangan: mencuci tangan dengan sabun bisa mengurangi risiko paparan virus dan bakteri dari permukaan yang terkontaminasi.
  4. Konsumsi makanan bergizi: asupan nutrisi yang cukup membantu mendukung kekuatan sistem imun tubuh.

Langkah‑langkah ini bukan hanya relevan saat hujan, tetapi juga ketika seseorang terpapar kondisi lembap atau dingin secara umum.

Kapan Perlu Berkonsultasi dengan Profesional Kesehatan?

Meskipun kehujanan tidak otomatis menyebabkan penyakit, jika gejala seperti demam tinggi, batuk berdahak, sesak napas, atau nyeri tubuh terus berlanjut setelah beberapa hari, orang tua atau individu perlu mempertimbangkan untuk diperiksa oleh tenaga medis profesional. Gejala yang tidak kunjung membaik bisa menunjukkan adanya infeksi yang memerlukan penanganan medis, bukan sekadar akibat cuaca.

Kesimpulan: Hujan Bukan Penyebab Utama Sakit

Berdasarkan penjelasan pakar IDAI, hujan sendiri bukan faktor penyebab langsung munculnya penyakit. Penyakit muncul ketika ada paparan virus atau bakteri pada tubuh yang saat itu memiliki daya tahan rendah. Hujan hanya menciptakan kondisi lingkungan yang dapat memicu turunnya imunitas, sehingga mikroorganisme lebih mudah menyerang.

Dengan memahami fakta ini, masyarakat dapat menghindari kekhawatiran yang berlebihan dan fokus pada langkah‑langkah praktis untuk menjaga kesehatan selama musim hujan. Pengetahuan yang akurat juga membantu mengurangi misinformasi dan kebiasaan lama yang tidak berdasar ilmiah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *