Kekhawatiran Kondisi Negara Picu Gangguan Mental, Psikolog Soroti Fenomena Baru di Indonesia
Sejumlah psikolog di Indonesia mulai mencermati munculnya fenomena baru di kalangan pasien yang mengalami tekanan mental akibat situasi sosial dan kondisi negara. Laporan BBC News Indonesia mengungkap bahwa sebagian orang datang ke layanan psikolog bukan hanya karena masalah pribadi atau keluarga, tetapi juga karena kecemasan terhadap peristiwa nasional yang mereka anggap berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari.
Psikolog klinis Mufliha Fahmi menyebutkan bahwa ia pernah menangani klien yang mengalami tekanan emosional setelah menyaksikan peristiwa banjir di Sumatra. Klien tersebut merasa frustrasi dan cemas karena menilai penanganan bencana berlangsung lambat. Perasaan tersebut berkembang menjadi tekanan psikologis yang cukup berat hingga memerlukan bantuan profesional.
Menurut Mufliha, kondisi seperti ini menunjukkan bahwa faktor sosial dan politik dapat memengaruhi kesehatan mental seseorang. Ia menilai respons emosional terhadap situasi negara sebenarnya wajar, terutama ketika seseorang merasa tidak berdaya menghadapi peristiwa besar yang berdampak luas. Namun, jika kecemasan tersebut terus berlanjut dan mengganggu aktivitas sehari-hari, kondisi itu dapat berkembang menjadi gangguan mental yang membutuhkan penanganan.
Fenomena tersebut juga menunjukkan perubahan pola konsultasi kesehatan mental di Indonesia. Jika sebelumnya mayoritas pasien datang dengan persoalan relasi pribadi, pekerjaan, atau trauma masa lalu, kini sebagian pasien membawa keresahan terkait isu publik, kebijakan, maupun bencana nasional. Hal ini menandakan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental sekaligus memperlihatkan betapa kuatnya pengaruh informasi dan peristiwa nasional terhadap kondisi psikologis individu.
Psikolog menjelaskan bahwa paparan berita secara terus-menerus dapat memperkuat rasa cemas. Media sosial mempercepat penyebaran informasi sekaligus memperbesar tekanan emosional, terutama ketika seseorang terus mengikuti perkembangan peristiwa tanpa jeda. Situasi tersebut dapat memicu rasa takut, marah, atau putus asa, terutama jika individu merasa tidak memiliki kontrol atas keadaan.
Meski demikian, para ahli menekankan bahwa tidak semua reaksi emosional terhadap situasi negara termasuk gangguan mental. Reaksi seperti sedih, marah, atau khawatir merupakan respons normal manusia terhadap peristiwa besar. Gangguan mental baru perlu diwaspadai ketika perasaan tersebut berlangsung lama, intens, dan mengganggu fungsi sosial maupun pekerjaan seseorang.
Untuk mengurangi dampak negatif tersebut, psikolog menyarankan masyarakat mengelola konsumsi informasi secara bijak. Membatasi waktu membaca berita, memilih sumber terpercaya, serta menjaga keseimbangan antara aktivitas daring dan kehidupan nyata dapat membantu menjaga stabilitas emosional. Selain itu, dukungan sosial dari keluarga dan teman juga berperan penting dalam membantu seseorang mengelola stres.
Para profesional kesehatan mental juga mengingatkan bahwa mencari bantuan psikolog bukanlah tanda kelemahan. Justru, langkah tersebut menunjukkan kesadaran untuk menjaga kesehatan diri. Dengan konsultasi yang tepat, pasien dapat memahami sumber kecemasan, mengelola emosi, serta membangun strategi menghadapi tekanan psikologis.
Fenomena meningkatnya kecemasan akibat kondisi negara memperlihatkan hubungan erat antara kesehatan mental dan lingkungan sosial. Ketika masyarakat menghadapi bencana, ketidakpastian ekonomi, atau dinamika politik, dampaknya tidak hanya terasa pada aspek fisik dan sosial, tetapi juga psikologis.
Karena itu, para ahli menilai penting bagi pemerintah dan masyarakat untuk memperkuat edukasi kesehatan mental. Kampanye kesadaran, akses layanan psikologis yang lebih luas, serta komunikasi publik yang transparan dapat membantu mengurangi kecemasan kolektif. Dengan pendekatan tersebut, masyarakat diharapkan mampu menghadapi berbagai peristiwa nasional dengan lebih tenang dan resilien.
Fenomena yang diungkap dalam laporan ini menjadi pengingat bahwa kesehatan mental tidak terpisah dari situasi sosial. Stabilitas emosional masyarakat sering kali berkaitan erat dengan rasa aman, kepercayaan, dan kepastian terhadap kondisi di sekitarnya.

