🏥 Kesehatan

Kasus Langka di Belgia: Pria 83 Tahun Terdiagnosis Sifilis, Dokter Telusuri Sumber Infeksi Lama

Seorang pria berusia 83 tahun di Belgia menarik perhatian dunia medis setelah dokter mendiagnosisnya mengidap sifilis dalam kondisi yang tidak biasa. Kasus ini menjadi sorotan karena gejala awal yang muncul menyerupai infeksi virus umum, sehingga sempat mengarah pada dugaan penyakit lain sebelum akhirnya terungkap sebagai infeksi menular seksual lama yang kembali aktif.

Laporan medis menunjukkan pasien datang ke rumah sakit dengan keluhan melemahnya otot di satu sisi wajah secara tiba-tiba. Kondisi tersebut mengarah pada kelumpuhan saraf wajah perifer unilateral. Ia juga mengalami demam ringan dalam waktu singkat, sehingga dokter awalnya menduga adanya infeksi virus.

Gejala Awal Menyesatkan Diagnosis

Tim medis melakukan serangkaian pemeriksaan dan menemukan beberapa kondisi tambahan, termasuk anemia, pembesaran limpa, serta perlemakan hati. Temuan tersebut membuat dokter sempat mencurigai infeksi virus seperti Epstein-Barr atau hepatitis.

Namun, seluruh hasil tes virus menunjukkan hasil negatif. Setelah memberikan terapi kortikosteroid selama sekitar 10 hari, kondisi kelumpuhan wajah pasien sempat membaik. Meski begitu, perbaikan itu tidak berlangsung lama.

Sebulan kemudian, kondisi pasien justru memburuk. Ia mengalami nyeri sendi, pembengkakan berat pada kaki, tangan, dan wajah, serta perubahan warna urine menjadi gelap. Gejala tersebut menandakan kemungkinan gangguan ginjal serius dan mendorong dokter melakukan pemeriksaan lanjutan yang lebih mendalam.

Hasil investigasi lanjutan akhirnya mengarah pada diagnosis neurosifilis, bentuk sifilis yang menyerang sistem saraf. Kondisi ini tergolong jarang ditemukan, terutama pada pasien usia lanjut dengan riwayat seksual yang tampak tidak aktif dalam waktu lama.

Riwayat Lama Terungkap

Kasus ini semakin menarik ketika dokter menelusuri riwayat seksual pasien. Pria tersebut mengaku tidak aktif secara seksual selama sekitar 50 tahun pernikahannya, terutama setelah menjalani pengobatan kanker rektum dua dekade lalu.

Namun, setelah muncul ruam merah bersisik disertai rasa gatal hebat di betis, pasien akhirnya mengingat kembali masa mudanya. Ia mengaku pernah melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan beberapa pasangan saat menjalani dinas militer. Ia juga pernah mengalami infeksi menular seksual pada masa itu, meski tidak mengingat detail diagnosis maupun pengobatannya.

Pengakuan tersebut membantu dokter memahami kemungkinan bahwa bakteri penyebab sifilis telah berada di tubuh pasien selama puluhan tahun dan baru menunjukkan komplikasi serius pada usia lanjut.

Pelajaran Penting bagi Dunia Medis

Kasus ini menegaskan bahwa sifilis dapat berkembang sangat lambat dan tidak selalu menimbulkan gejala jelas dalam waktu singkat. Dalam beberapa situasi, infeksi bahkan bisa bertahan bertahun-tahun sebelum akhirnya menyerang organ vital seperti otak atau sistem saraf.

Para ahli menilai kejadian ini sebagai pengingat penting bagi tenaga kesehatan untuk tidak mengabaikan kemungkinan infeksi menular seksual, bahkan pada pasien lanjut usia. Riwayat kesehatan jangka panjang, termasuk aktivitas seksual di masa lalu, dapat menjadi faktor penting dalam menentukan diagnosis yang tepat.

Selain itu, kasus ini juga menunjukkan pentingnya deteksi dini dan pengobatan infeksi menular seksual sejak awal. Dengan pemeriksaan dan terapi yang tepat waktu, komplikasi berat seperti neurosifilis sebenarnya dapat dicegah.

Kesadaran Publik Perlu Ditingkatkan

Para pakar kesehatan menekankan bahwa sifilis tetap menjadi penyakit yang dapat diobati jika terdeteksi lebih awal. Pemeriksaan rutin, penggunaan pelindung saat berhubungan seksual, serta keterbukaan dalam menyampaikan riwayat kesehatan kepada dokter dapat membantu mencegah dampak serius di kemudian hari.

Kasus pria lanjut usia di Belgia ini menjadi pengingat bahwa penyakit menular seksual tidak selalu terbatas pada kelompok usia muda. Infeksi lama yang tidak terdiagnosis bisa muncul kembali dan menimbulkan komplikasi berat jika tidak ditangani dengan tepat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *