Gaya Hidup

Muslim Boleh Makan Hidangan Imlek Selama Halal, Ini Penjelasan Ulama

Perayaan Tahun Baru Imlek identik dengan berbagai sajian khas yang dinikmati bersama keluarga dan kerabat. Tradisi makan bersama tersebut kerap melibatkan hidangan simbolis seperti yusheng atau yee sang. Lalu muncul pertanyaan di kalangan masyarakat: apakah umat Muslim boleh mengonsumsi hidangan khas Imlek?

Dalam laporan yang dimuat di detikFood, sejumlah ulama menjelaskan bahwa umat Islam pada dasarnya boleh mengonsumsi hidangan Imlek, selama makanan tersebut memenuhi ketentuan halal dan tidak berkaitan dengan ritual keagamaan non-Islam.

Hidangan Imlek Sarat Makna Tradisi

Salah satu hidangan populer saat Imlek adalah yusheng, salad khas Tionghoa yang biasanya berisi irisan lobak, wortel, kerupuk pangsit, ikan mentah, serta saus plum bercita rasa manis-asam. Masyarakat Tionghoa menikmati hidangan ini melalui ritual lo hei, yakni mengaduk dan mengangkat salad setinggi mungkin sambil mengucapkan doa dan harapan baik untuk tahun baru.

Tradisi tersebut sering dilakukan di rumah maupun restoran, bahkan tidak jarang keluarga Tionghoa mengundang kerabat Muslim untuk ikut menikmati hidangan bersama sebagai bentuk kebersamaan sosial.

Ulama: Boleh Selama Tidak Terkait Keyakinan

Pendakwah asal Malaysia, Ustazah Asma’ Harun, menjelaskan bahwa umat Islam boleh berpartisipasi dalam kegiatan sosial terkait Imlek, termasuk menikmati makanan yang disajikan. Namun, ia menegaskan bahwa partisipasi tersebut tidak boleh didasari niat mengikuti ritual keagamaan.

Menurutnya, keikutsertaan Muslim dalam acara seperti makan bersama dapat dipahami sebagai bentuk menjaga hubungan sosial dan persahabatan. Selama kegiatan tersebut bersifat budaya atau sosial, bukan ibadah agama lain, maka hal itu masih diperbolehkan.

Ia juga menyebut bahwa umat Islam boleh mengucapkan selamat seperti “Gong Xi Fa Cai”, karena ucapan tersebut mengandung makna doa kesejahteraan dan keberuntungan, bukan unsur keagamaan yang bertentangan dengan Islam.

Syarat Utama: Pastikan Kehalalan

Meski diperbolehkan, ulama menekankan bahwa kehalalan makanan tetap menjadi syarat utama. Muslim harus memastikan hidangan tidak mengandung bahan haram seperti daging babi, alkohol, atau unsur najis lainnya.

Selain bahan baku, kebersihan alat masak juga perlu diperhatikan. Peralatan yang digunakan sebaiknya tidak terkontaminasi dengan makanan non-halal. Hal ini penting untuk menjaga kesucian makanan sesuai syariat Islam.

Bagi mualaf atau Muslim yang memiliki keluarga Tionghoa, kunjungan saat Imlek juga diperbolehkan selama tujuannya untuk menghormati keluarga dan mempererat silaturahmi, bukan untuk merayakan festival tersebut sebagai bagian dari keyakinan agama.

Pentingnya Sikap Bijak dan Toleransi

Pandangan ini menunjukkan bahwa Islam memberikan ruang bagi umatnya untuk menjalin hubungan sosial dengan masyarakat berbeda budaya dan agama. Selama prinsip akidah tetap terjaga dan aturan halal dipatuhi, interaksi budaya seperti makan bersama saat Imlek tidak menjadi masalah.

Pendekatan tersebut sekaligus mencerminkan pentingnya toleransi dalam kehidupan masyarakat multikultural. Tradisi kuliner dapat menjadi jembatan persahabatan, selama setiap individu tetap berpegang pada keyakinannya masing-masing.

Dengan demikian, umat Muslim tidak perlu ragu menghadiri undangan makan bersama saat Imlek. Pastikan saja makanan halal, tidak terlibat ritual keagamaan, serta menjaga niat sebagai bentuk silaturahmi dan hubungan sosial.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *