🏥 Kesehatan

Kebiasaan Minum Teh Ini Bisa Mengurangi Manfaatnya, Waspadai Risiko Mikroplastik

Jakarta, 10 Februari 2026 – Teh jadi minuman favorit banyak orang karena rasa dan manfaatnya untuk kesehatan. Namun, kebiasaan sepele saat membuat dan menyeduh teh justru bisa mengurangi nilai kesehatan minuman ini. Salah satu faktor yang sering luput dari perhatian adalah jenis kantong teh celup yang digunakan.

Banyak orang memilih teh celup karena kemudahan dan kepraktisannya. Namun, tidak semua kantong teh dibuat dari bahan alami. Beberapa kantong teh celup memakai bahan sintetis seperti plastik polipropilen atau nilon. Ketika kantong jenis ini terkena air panas, ia bisa melepaskan partikel mikroplastik ke dalam minuman.

Risiko Mikroplastik dari Kantong Teh Celup

Para ahli menunjukkan bahwa kantong teh berbahan plastik bisa mengeluarkan mikro dan nanoplastik saat diseduh. “Studi laboratorium menunjukkan bahwa saat kantong‑kantong ini tersentuh air panas, sejumlah partikel plastik bisa larut ke dalam cairan,” kata Rhiannon Lambert, ahli nutrisi dan penulis buku kesehatan.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Environmental Science & Technology pada 2019 menemukan fakta mengejutkan terkait jumlah partikel yang bisa dilepaskan. Penelitian itu menunjukkan bahwa satu kantong teh celup plastik bisa melepaskan hingga 11,6 miliar mikroplastik dan 3,1 miliar nanoplastik ke dalam secangkir teh. Angka ini bisa mencapai ratusan ribu kali lebih banyak dari konsumsi mikroplastik rata‑rata seseorang dalam satu tahun.

Konsentrasi mikroplastik sebesar itu menimbulkan kekhawatiran, karena zat tersebut bersifat asing bagi tubuh manusia. Meski belum ada batas aman paparan mikroplastik yang jelas, banyak peneliti merasa perlu mengurangi paparan ini sebisa mungkin.

Bagaimana Mikroplastik Dapat Mempengaruhi Tubuh

Mikroplastik tidak hanya hadir sebagai benda asing di dalam tubuh, tetapi juga membawa zat kimia lain yang bisa bereaksi dengan sistem biologis tubuh. Para peneliti masih mengkaji dampak jangka panjangnya, tetapi paparan mikroplastik telah menjadi fokus banyak studi karena potensinya mengganggu fungsi organ dan respon imun.

Para ahli menyarankan untuk meninjau kembali cara kita membuat teh, khususnya ketika memakai teh celup. Mereka menyarankan agar konsumen memilih kantong teh yang bebas plastik atau jenis kantong yang terbuat dari bahan alami seperti kertas atau tumbuhan.

Alternatif Teh yang Lebih Sehat

Untuk mengurangi paparan mikroplastik, kamu bisa beralih ke teh seduh atau teh tubruk, di mana daun teh langsung direndam dalam cangkir atau teko tanpa kantong plastik. Dengan cara ini, kamu tetap mendapatkan rasa teh serta manfaat antioksidan dan nutrisi tanpa risiko partikel plastik.

Selain itu, kebiasaan lain yang bisa membuat teh tetap sehat adalah memperhatikan cara penyeduhan. Misalnya, para pecinta teh sebaiknya menghindari menyeduh teh dengan air yang terlalu panas, karena suhu tinggi bisa merusak beberapa senyawa sehat dalam daun teh dan memberi rasa pahit. Air dengan suhu sekitar 70‑80°C sering disarankan agar teh tidak kehilangan cita rasa alami dan nutrisi.

Para ahli juga memperingatkan agar tidak menyimpan teh yang sudah diseduh terlalu lama, karena ini bisa memberi tempat berkembang biaknya bakteri jika dibiarkan terlalu lama. Pastikan teh yang disajikan segar untuk mengurangi risiko ini.

Waktu dan Jumlah Minum Teh

Kebiasaan lain yang bisa mengubah manfaat teh adalah waktu mengonsumsinya. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa minum teh saat perut kosong bisa memicu gangguan pencernaan, karena kandungan kafein dan tannin bisa meningkatkan asam lambung.

Para ahli menyarankan agar kamu tidak langsung minum teh setelah makan berat. Menunggu sekitar 30 menit hingga satu jam setelah makan bisa membantu tubuh mencerna makanan lebih baik sebelum menerima tambahan kafein atau tannin.

Mereka juga menyarankan untuk membatasi konsumsi teh sekitar 3‑4 cangkir per hari untuk menghindari asupan kafein berlebihan atau potensi interaksi dengan obat‑obatan tertentu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *