Mitos atau Fakta: Tidur Saat Magrib Bikin Gila?
Larangan tidur saat magrib adalah nasihat yang sangat akrab di telinga banyak orang Indonesia. Sejak kecil, kita sering diperingatkan:
āJangan tidur magrib, nanti bisa gila.ā
Pernyataan ini terdengar ekstrem dan menakutkan. Tapi pertanyaannya: apakah benar tidur saat magrib bisa menyebabkan gangguan jiwa? Ataukah ini hanya mitos yang diwariskan turun-temurun?
Asal-Usul Mitos Tidur Magrib
Mitos ini berakar dari beberapa faktor sekaligus:
- Budaya dan kebiasaan sosial
Waktu magrib secara tradisional dianggap sebagai waktu peralihan dari siang ke malam, saat keluarga berkumpul, beribadah, dan bersiap beristirahat. - Pengamatan empiris zaman dulu
Orang yang sering tidur sore lalu begadang malam hari kerap terlihat mudah marah, linglung, atau emosionalāyang kemudian diasosiasikan dengan ātidak warasā. - Bahasa simbolik
Kata āgilaā dalam konteks lama sering dipakai secara kiasan untuk menyebut perilaku aneh, bukan gangguan mental klinis.
Namun, kepercayaan lama belum tentu sejalan dengan ilmu kesehatan modern.
Fakta Medis: Apakah Tidur Magrib Bisa Bikin Gila?
š Jawaban tegas:
Tidur saat magrib TIDAK menyebabkan gangguan jiwa atau āgilaā.
Tidak ada bukti ilmiah yang menyatakan bahwa tidur pada jam tertentuātermasuk magribābisa memicu penyakit mental seperti skizofrenia, bipolar, atau gangguan jiwa berat lainnya.
Gangguan mental disebabkan oleh kombinasi faktor:
- Genetik
- Neurobiologis
- Psikologis
- Lingkungan
- Trauma dan stres jangka panjang
Jam tidur bukan penyebab langsung gangguan jiwa.
Tapi⦠Ada Dampak Jika Terlalu Sering Tidur Magrib
Meski tidak bikin gila, tidur saat magrib bisa berdampak tidak nyaman bagi sebagian orang.
1. Mengganggu Ritme Sirkadian
Tubuh manusia punya jam biologis (ritme sirkadian). Tidur sore bisa:
- Mengurangi rasa kantuk di malam hari
- Menyebabkan susah tidur (insomnia)
- Mengacaukan pola tidur
2. Efek āSleep Inertiaā
Bangun dari tidur sore sering membuat:
- Kepala pusing
- Linglung
- Emosi tidak stabil
- Sulit fokus
Kondisi ini kadang disalahartikan sebagai āgejala gilaā.
3. Begadang dan Kelelahan Mental
Tidur magrib ā susah tidur malam ā begadang ā kurang tidur kronis
Jika berlangsung lama, kurang tidur bisa memicu:
- Stres
- Cemas
- Mudah marah
- Penurunan konsentrasi
Namun ini masalah kualitas tidur, bukan gangguan jiwa.
Kapan Tidur Magrib Masih Wajar?
Tidur saat magrib tidak masalah jika:
- Tubuh sangat lelah
- Kurang tidur semalam
- Sedang sakit
- Hanya tidur singkat (power nap 20ā30 menit)
Yang perlu dihindari adalah tidur panjang (1ā3 jam) yang mendekati malam.
Jam Tidur yang Lebih Dianjurkan
Agar tidur tetap sehat:
- š Tidur malam ideal: pukul 21.00ā23.00
- ā±ļø Tidur siang: maksimal 20ā30 menit
- š« Hindari tidur panjang setelah pukul 17.00
Jika mengantuk di waktu magrib, lebih baik:
- Mandi
- Shalat
- Jalan santai
- Minum air putih
- Aktivitas ringan
Mengapa Mitos Ini Masih Bertahan?
Karena:
- Diajarkan sejak kecil
- Diperkuat pengalaman subjektif
- Jarang dijelaskan secara ilmiah
- Kata āgilaā dipakai sebagai bentuk larangan keras
Padahal, kesehatan mental jauh lebih kompleks dan serius daripada sekadar jam tidur.
Kesimpulan: Mitos atau Fakta?
š Kesimpulan:
Pernyataan bahwa tidur saat magrib bikin gila adalah MITOS.
Namun:
- Tidur magrib bisa mengganggu pola tidur
- Bisa menyebabkan pusing, linglung, dan emosi tidak stabil sementara
- Tidak ada kaitan langsung dengan gangguan jiwa
Yang terpenting bukan jam tidurnya, melainkan kualitas, durasi, dan konsistensi tidur š“.
