Kemenkes Imbau Masyarakat Hindari Konsumsi Nira atau Aren Langsung dari Pohon untuk Cegah Virus Nipah
Jakarta, 2026 – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) mengeluarkan imbauan penting kepada masyarakat agar tidak mengonsumsi nira atau air aren langsung dari pohonnya sebagai langkah antisipasi terhadap potensi penularan virus Nipah, penyakit zoonotik berbahaya yang bisa berpindah dari hewan ke manusia. Langkah ini diambil di tengah meningkatnya kewaspadaan pemerintah terhadap risiko penyakit tersebut, meskipun hingga kini belum ada laporan kasus konfirmasi pada manusia di Indonesia.
Virus Nipah dikenal memiliki inang alami pada kelelawar buah, dan bisa menular melalui konsumsi makanan atau minuman yang telah terkontaminasi oleh virus tersebut, seperti buah atau nira yang terpapar cairan hewan liar. Kemenkes menyatakan bahwa konsumsi langsung makanan hasil sadapan dari pohon tanpa pengolahan berisiko tinggi karena kemungkinan kontaminasi virus tetap ada.
Imbauan Pemerintah untuk Mengurangi Risiko Penularan
Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit Kemenkes, Murti Utami, menjelaskan bahwa masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap virus Nipah meskipun belum ditemukan kasus di Indonesia. Ia menegaskan bahwa masyarakat harus mengolah nira dan buah aren secara aman sebelum dikonsumsi untuk meminimalkan kemungkinan terpapar virus Nipah.
Dalam imbauannya, Murti menyarankan agar masyarakat melakukan langkah berikut sebelum mengonsumsi nira atau buah aren:
- Masak nira atau aren terlebih dahulu sebelum diminum atau diolah.
- Cuci dan kupas buah secara menyeluruh untuk menghilangkan kontaminan yang mungkin menempel.
- Hindari buah yang menunjukkan tanda bekas gigitan hewan, terutama kelelawar buah yang dapat membawa virus.
Langkah-langkah ini dimaksudkan untuk memperkecil risiko infeksi karena virus Nipah bisa menyebar melalui makanan atau minuman yang telah terkontaminasi oleh darah, air liur, atau urine hewan yang menjadi reservoir virus tersebut.
Potensi Risiko dan Penularan Virus Nipah
Virus Nipah termasuk dalam golongan penyakit zoonotik yang dapat berpindah dari hewan ke manusia melalui kontak langsung atau konsumsi makanan yang terkontaminasi. Kelelawar buah dikenal sebagai reservoir utama virus ini, dan penularan ke manusia bisa terjadi baik melalui hewan perantara seperti babi maupun konsumsi langsung makanan yang terpapar virus tanpa melalui proses pengolahan atau pemanasan yang tepat.
Selain itu, studi surveilans menunjukkan bahwa di Indonesia telah ditemukan adanya bukti serologis dan deteksi virus pada kelelawar buah (Pteropus sp.), yang menunjukkan bahwa virus Nipah memiliki potensi sumber penularan di wilayah ini meskipun kasus pada manusia belum terdeteksi.
Selain risiko melalui makanan, virus Nipah juga bisa menyebar antarmanusia melalui kontak dekat dengan penderita, terutama ketika bersentuhan dengan cairan tubuh seperti air liur atau batuk penderita. Gejala infeksi ini dapat bervariasi, mulai dari gejala ringan seperti demam dan batuk hingga kondisi serius seperti ensefalitis (peradangan otak) yang berpotensi fatal jika tidak ditangani dengan tepat.
Pencegahan dan Kewaspadaan Tinggi Pemerintah
Meskipun hingga saat ini belum ada kasus konfirmasi virus Nipah pada manusia di Indonesia, pemerintah tetap menekan tingkat kewaspadaan tinggi melalui berbagai upaya. Salah satu langkah yang direkomendasikan adalah edukasi kepada masyarakat tentang cara mengolah makanan dari alam dengan aman dan menerapkan pola hidup bersih. Langkah ini termasuk membersihkan tangan sebelum makan, mencuci buah dan sayuran, serta memastikan daging dimasak hingga matang sempurna sebelum disantap.
Kemenkes juga mendorong kerja sama antarinstansi, termasuk dinas kesehatan, fasilitas pelayanan kesehatan, dan puskesmas, untuk terus memantau tren gejala penyakit yang mirip Nipah seperti infeksi saluran pernapasan akut dan ensefalitis yang dapat menjadi indikator awal kemungkinan penularan.
Selain itu, pemerintah daerah di seluruh Indonesia perlu memperkuat surveilans kesehatan serta memberikan informasi yang akurat dan mudah dipahami kepada publik mengenai tanda-tanda penyakit, sehingga masyarakat bisa segera mencari bantuan medis jika mengalami gejala yang mencurigakan setelah konsumsi makanan atau minuman dari alam yang berpotensi terpapar virus.
Kesimpulan dan Arahan
Kementerian Kesehatan mengajak masyarakat mengambil langkah pencegahan sederhana namun penting terhadap potensi virus Nipah, termasuk hindari konsumsi nira atau aren langsung dari pohon tanpa pengolahan yang tepat. Meski hingga kini belum ada kasus di Indonesia, kewaspadaan tetap harus dijaga mengingat potensi penularan melalui makanan dan adanya bukti virus pada populasi hewan di wilayah ini.
Penerapan langkah-langkah sederhana seperti mengolah makanan secara higienis, mencuci buah dengan benar, dan memasak makanan hingga matang dapat membantu mengurangi risiko penularan dan menjaga kesehatan masyarakat di tengah potensi ancaman virus Nipah.

