Psikolog Ungkap 5 Perilaku Tidak Sehat dalam Mencari Pasangan: Ciri, Penyebab dan Cara Mengatasinya
JAKARTA kilasjurnal.id — Mencari pasangan yang tepat merupakan perjalanan hidup yang penting bagi banyak orang. Sayangnya, tidak semua perilaku yang muncul saat proses ini sehat dan membangun. Psikolog kini semakin sering menemukan pola-pola perilaku yang justru menghambat kemampuan seseorang untuk menjalin hubungan yang sehat dan langgeng, baik secara emosional maupun sosial — terutama jika perilaku tersebut dilakukan berulang atau tanpa kesadaran diri.¹
Perilaku tidak sehat dalam mencari pasangan tidak hanya membuat proses menemukan cinta lebih sulit, tetapi juga berpotensi menyebabkan stres emosional, konflik interpersonal, bahkan membentuk pola hubungan yang destruktif jika tidak diatasi sejak dini.
1. Menaruh Harapan Tidak Realistis terhadap Pasangan
Salah satu perilaku tidak sehat yang sering muncul saat mencari pasangan adalah adanya harapan yang terlalu idealis, baik terhadap calon pasangan maupun terhadap hubungan itu sendiri. Harapan ini bisa berupa keinginan bahwa pasangan harus sempurna secara fisik, ekonomi, sosial, atau emosional.
Menurut psikolog, harapan yang tidak realistis sering muncul dari tekanan sosial atau dari pengalaman masa lalu yang membentuk standar terlalu tinggi. Misalnya, seseorang menolak banyak peluang karena merasa “tidak ada yang cukup baik,” atau terus membanding-bandingkan calon pasangan dengan gambaran cinta dalam film atau media sosial. Perilaku ini pada akhirnya bisa membuat seseorang kesulitan membuka diri terhadap hubungan yang nyata dan potensial.¹
2. Terlalu Bergantung pada Aplikasi Kencan (Dating Apps)
Kemajuan teknologi memang mempermudah orang menemukan jodoh secara online. Namun, terlalu bergantung pada aplikasi kencan juga bisa menjadi perilaku tidak sehat, terutama jika seseorang hanya fokus pada jumlah “match” atau persentase respon tanpa memperhatikan kualitas komunikasi atau kecocokan emosional.
Psikolog sering mencatat bahwa penggunaan berlebihan aplikasi kencan membuat beberapa orang mudah frustrasi atau cepat menyerah ketika tidak mendapatkan respon yang mereka inginkan. Bahkan, selera untuk “perfectionism swiping” — terus bergeser dari satu profil ke profil lain tanpa benar-benar menjalin percakapan bermakna — bisa menyebabkan penurunan empati dan keterampilan berhubungan sosial secara langsung.¹
3. Kecemburuan dan Kontrol Berlebihan Sejak Awal
Ciri lain perilaku tidak sehat dalam mencari pasangan adalah munculnya kecemburuan atau kontrol berlebihan pada fase awal hubungan. Meski rasa cemburu adalah respons manusia yang normal, ketika perilaku ini kentara sejak awal, hal ini bisa menjadi sinyal adanya ketidakamanan emosional yang belum diselesaikan.
Contoh perilaku ini misalnya ketika seseorang cepat memeriksa ponsel calon pasangan tanpa izin, merasa takut kehilangan sebelum hubungan stabil, atau memberi batasan ketat pada interaksi sosial calon pasangan dengan teman dan keluarga. Ini bisa mencerminkan kurangnya kepercayaan diri atau kecemasan yang tidak terselesaikan yang bisa merusak hubungan sejak awal.¹
4. Mengabaikan Batasan Emosional dan Diri Sendiri
Perilaku tidak sehat lainnya adalah kecenderungan untuk mengabaikan batasan emosional pribadi demi mendapatkan atau mempertahankan perhatian pasangan. Pola ini bisa muncul sebagai sering menurunkan standar diri sendiri, memprioritaskan kebutuhan pasangan di atas kebutuhan sendiri, atau bahkan mengabaikan indikasi perilaku buruk yang ditunjukkan calon pasangan.
Misalnya, seseorang yang terus memaafkan komentar merendahkan atau permintaan yang terasa tidak pantas hanya karena takut ditinggalkan. Psikolog mengatakan bahwa ketika seseorang kehilangan kemampuan untuk mengatakan “tidak” atau mempertahankan batasan pribadi, ini bisa menandakan kurangnya keseimbangan emosional dan ketidaksiapan untuk hubungan yang sehat.¹
5. Cepat Mengidentifikasi Pasangan sebagai ‘Cinta Sejati’ tanpa Evaluasi Realistis
Ketika seseorang langsung menganggap calon pasangan sebagai “cinta sejati” tanpa terlebih dahulu memahami kepribadian, nilai, atau kompatibilitas hidupnya, ini bisa menjadi perilaku yang kurang sehat. Fenomena ini sering disebut sebagai infatuation rush — perasaan intens di awal yang sering disalahartikan sebagai cinta yang matang.
Psikolog mengingatkan bahwa cinta yang sehat memerlukan waktu untuk matang dan dibangun melalui interaksi berulang, saling memahami, serta pengalaman melewati konflik kecil bersama. Ketika seseorang terburu-buru melabeli hubungan sebagai “yang terbaik” hanya berdasarkan daya tarik awal, ini bisa menciptakan ekspektasi emosional yang tidak realistis dan akhirnya memicu kekecewaan mendalam.¹
Dampak Perilaku Tidak Sehat saat Mencari Pasangan
Perilaku di atas bukan sekadar gaya berpacaran yang unik, tetapi dapat berdampak jauh lebih besar dalam kehidupan emosional dan sosial seseorang. Beberapa dampak negatif yang sering muncul antara lain:
- Tingginya tingkat frustrasi emosional karena harapan tidak terpenuhi atau hubungan putus berulang.
- Hubungan yang tidak stabil karena pola komunikasi yang buruk atau kontrol berlebihan.
- Ketergantungan emosional yang membuat seseorang sulit merasa bahagia tanpa orang lain.
- Isolasi sosial akibat kurangnya dukungan hubungan sehat dari teman atau keluarga.
- Risiko masuk ke hubungan yang toxic jika pola tidak sehat ini terus berulang tanpa dievaluasi.¹
Perilaku Tidak Sehat vs. Hubungan Sehat: Perbandingan Psikologis
Untuk memahami perilaku tidak sehat di atas, perlu melihat perbedaan antara hubungan sehat dan tidak sehat secara psikologis:
Hubungan Sehat
- Komunikasi terbuka dan saling mendengarkan
- Menghormati ruang pribadi dan batasan masing-masing
- Kesetaraan dalam membuat keputusan
- Dukung tumbuh kembang pribadi satu sama lain
Hubungan Tidak Sehat
- Kontrol berlebihan atau posesif
- Komunikasi penuh konflik tanpa solusi
- Ketergantungan emosional yang merugikan
- Minimnya dukungan sosial dan isolasi dari orang terdekat
Ahli hubungan sering menekankan bahwa mengenali tanda-tanda di atas sejak awal penting agar seseorang dapat memilih calon pasangan atau mengubah perilaku yang menghambat hubungan sehat.¹
Tips Psikolog Agar Proses Mencari Pasangan Lebih Sehat
Mengubah pola perilaku tidak sehat dalam pencarian pasangan memang tidak mudah, tetapi beberapa langkah berbasis psikologi dapat membantu membangun pendekatan yang lebih sehat:
1. Sadari dan Evaluasi Diri Sendiri
Sadarilah pola berpikir atau reaksi emosional yang sering muncul ketika dekat dengan calon pasangan. Evaluasi apa yang memicu kecemburuan, ketergantungan, atau harapan terlalu tinggi.
2. Bangun Keterampilan Komunikasi Sehat
Belajar menyampaikan perasaan secara jujur dan tenang tanpa agresi, serta mendengarkan dengan empati, dapat memperkuat hubungan bahkan di fase awal.
3. Tetapkan Batasan Pribadi yang Jelas
Belajar mengatakan “tidak” atau mempertahankan ruang pribadi merupakan indikator kedewasaan emosional yang penting dalam hubungan.
4. Beri Waktu pada Proses
Jangan terburu-buru menilai atau melabeli hubungan sebelum benar-benar mengenal karakter, nilai, dan tujuan hidup calon pasangan.
5. Pertimbangkan Konseling atau Dukungan Profesional
Jika merasa sering terjebak pola tidak sehat, pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan psikolog atau konselor hubungan yang dapat memberikan pandangan objektif dan strategi praktis.²
Kesimpulan
Mencari pasangan adalah salah satu perjalanan emosional yang paling signifikan dalam hidup. Namun, proses ini bisa menjadi rumit jika dibayangi oleh perilaku tidak sehat seperti harapan yang tidak realistis, kecemburuan berlebihan, kontrol berlebihan, hingga penilaian yang prematur terhadap calon pasangan. Dengan mengenali pola perilaku tersebut dan menerapkan pendekatan psikologis yang sehat, seseorang dapat memaksimalkan peluang menemukan hubungan yang berkualitas, penuh rasa saling menghormati, dan berkelanjutan dalam jangka panjang.¹

