Fosil Tua di Maroko Ungkap Jejak Awal Leluhur Homo sapiens
Casablanca, Maroko, 9 Januari 2026 – Para ilmuwan internasional mencatat terobosan penting dalam studi evolusi manusia setelah ditemukan fosil hominin berusia sekitar 773.000 tahun di situs Thomas Quarry I, wilayah Casablanca, Maroko. Penemuan ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah terkemuka Nature dan dianggap memberikan petunjuk penting tentang asal usul leluhur Homo sapiens yang telah lama menjadi misteri para paleoantropolog.
Fosil‑fosil kuno tersebut terdiri dari fragmen rahang bawah (mandibula), gigi, beberapa tulang belakang, dan fragmen tulang paha. Benda‑benda arkeologis ini ditemukan di sebuah gua yang disebut Grotte à Hominidés, yang merupakan bagian dari kompleks gua di area Thomas Quarry I. Analisis umur fosil ini dilakukan melalui metode magnetostratigrafi resolusi tinggi, yang dapat mengukur perubahan medan magnet bumi dalam lapisan batuan untuk memperkirakan usia temuan secara akurat. Hasilnya menunjukkan umur fosil sekitar 773.000 ± 4.000 tahun, menempatkannya di masa yang sangat krusial bagi jalur evolusi manusia purba.
Mengisi Kesenjangan dalam Sejarah Evolusi Manusia
Sebelumnya, fosil‑fosil yang diperkirakan sebagai nenek moyang Homo sapiens atau spesies manusia purba lain kerap ditemukan di berbagai lokasi Afrika, seperti situs Jebel Irhoud yang menyimpan fosil berusia sekitar 315.000 tahun. Namun, periode antara satu juta hingga setengah juta tahun lalu masih menyisakan “kesenjangan” fosil yang relatif sedikit, membuat para ilmuwan kesulitan memetakan evolusi langsung menuju manusia modern.
Penemuan fosil Maroko ini membantu mengisi celah besar dalam catatan fosil Afrika. Karena fosil‑fosil tersebut tampaknya berasal dari sebuah populasi hominin yang memiliki kombinasi ciri primitif dan yang lebih mirip dengan Homo sapiens maupun kerabatnya seperti Neanderthal dan Denisovan, temuan ini memberi sinyal kuat bahwa perkembangan garis keturunan manusia modern mungkin lebih kompleks daripada yang diperkirakan sebelumnya.
Para peneliti yang terlibat dalam studi tersebut menyatakan bahwa jasad purba ini mungkin tidak langsung menjadi leluhur terakhir Homo sapiens, tetapi mewakili populasi yang hidup dekat pada titik percabangan evolusi ketika garis keturunan yang menghasilkan manusia modern mulai terpisah dari garis keturunan lainnya seperti Neanderthal dan Denisovan. Dengan kata lain, fosil ini memberikan gambaran tentang sekelompok hominin yang hidup sebelum perbedaan yang jelas antara manusia modern dan kerabat evolusionernya muncul.
Sinyal Kuat Asal Afrika untuk Manusia Modern
Temuan fosil di Maroko semakin memperkuat pandangan ilmiah yang disebut teori Out of Africa, yaitu gagasan bahwa Homo sapiens dan kerabat dekatnya berasal dari benua Afrika. Meskipun bukti genetik telah lama menunjukkan bahwa leluhur manusia kemungkinan besar berasal dari Afrika, bukti fosil untuk periode ini relatif tipis. Penemuan baru ini membantu menjembatani bukti genetik dan fosil dengan hasil arkeologis yang lebih konkret.
Para ahli juga mencatat bahwa fosil hasil penelitian ini memperlihatkan ciri campuran antara manusia purba awal seperti Homo erectus dengan fitur‑fitur yang lebih maju yang kemudian lebih sering terlihat pada garis keturunan Homo sapiens dan spesies manusia lainnya. Ciri‑ciri gabungan ini menunjukkan perbedaan regional dalam evolusi manusia, dengan populasi Afrika Utara menunjukkan jalur berbeda namun masih terkait erat dengan perkembangan manusia purba lainnya.
Signifikansi Penemuan
Penemuan fosil Maroko ini dianggap sebagai salah satu temuan paling penting dalam bidang paleoantropologi dalam beberapa dekade terakhir. Tidak hanya karena usianya yang sangat tua, tetapi juga kemampuannya mengisi rentang waktu evolusi manusia yang sebelumnya kurang didokumentasikan, sekaligus memperkuat bukti bahwa evolusi manusia purba mencakup beberapa populasi yang hidup berdampingan dengan variasi yang kompleks.
Selain itu, fosil ini menunjukkan bahwa Afrika Utara memainkan peran penting dalam pemahaman asal usul manusia, di samping wilayah Afrika Timur dan Selatan yang selama ini sering menjadi fokus utama penelitian evolusi manusia purba. Para peneliti berharap bahwa temuan ini hanya merupakan permulaan, dan bahwa penggalian lanjutan di situs yang sama maupun tempat lain di Afrika Utara dapat memperluas pemahaman ilmuwan tentang jalur evolusi manusia secara lebih detil.
Penutup
Penemuan fosil berusia sekitar 773.000 tahun di Maroko memberikan secercah terang bagi umat manusia untuk memahami akar keberadaannya. Dengan mengisi celah penting dalam catatan fosil awal hominin, penelitian ini menegaskan kembali bahwa Afrika tetap merupakan penjuru penting bagi sejarah evolusi manusia. Temuan tersebut tidak hanya menarik minat ilmuwan, tetapi juga meningkatkan apresiasi masyarakat internasional terhadap proses panjang yang membawa manusia purba menuju Homo sapiens — jenis manusia yang hidup hingga kini.

