Fakta vs Mitos: Benarkah Terlalu Positif Itu ‘Toxic’ dan Merusak Kesehatan Mental?
JAKARTA, 29 November 2025 ā Di era media sosial, kita dibanjiri dengan anjuran untuk “selalu bahagia,” “buang energi negatif,” dan “fokus pada hal baik saja.” Sikap serba positif ini, yang sekilas tampak sehat, belakangan justru memunculkan istilah baru: Toxic Positivity. Fenomena ini mengacu pada pemaksaan suasana hati positif yang tidak realistis dan penolakan mentah-mentah terhadap emosi negatif yang valid.
Lalu, di mana batasan antara sikap positif yang membangun dan sikap positif yang justru toxic? Psikologi modern menegaskan bahwa emosi negatif itu wajar dan perlu diproses. Mengabaikannya demi kepura-puraan bahagia justru bisa menjadi racun tersembunyi bagi kesehatan mental kita.
Mitos 1: Mengakui Rasa Sedih atau Kecewa Berarti Kita Lemah dan Tidak Bersyukur
FAKTA: Emosi negatif (sedih, kecewa, marah, cemas) adalah sinyal biologis yang penting, bukan tanda kelemahan.
Poin Krusial: Fungsi Adaptif Emosi.
- Marah (Anger): Marah memberi tahu kita bahwa ada batas personal yang dilanggar atau ada ketidakadilan yang perlu diperbaiki.
- Cemas (Anxiety): Cemas memicu kita untuk bersiap menghadapi ancaman atau masalah di masa depan (misalnya, cemas akan ujian membuat kita belajar).
- Sedih (Sadness): Sedih adalah respons alami terhadap kehilangan dan memicu kita untuk mencari dukungan sosial.
Toxic Positivity terjadi ketika kita menolak sinyal-sinyal ini. Contoh nyatanya: Saat teman kita kehilangan pekerjaan, respons toxic adalah, “Sudah, jangan sedih! Positive thinking aja, pasti ada rezeki lain yang lebih baik!” Respons ini secara tidak langsung membatalkan perasaan sedih teman kita, membuatnya merasa bersalah karena bersedih.
Mitos 2: Orang yang Selalu Senang Pasti Paling Sehat Mentalnya
FAKTA: Orang yang paling sehat mental adalah mereka yang mampu merasakan dan memproses seluruh spektrum emosi, baik positif maupun negatif.
Toxic Positivity memaksa kita memakai topeng. Kita dilarang mengatakan, “Saya sedang stres,” atau “Saya sedih.” Sebaliknya, kita didorong untuk selalu mengatakan, “Saya baik-baik saja, semua pasti indah pada waktunya.” Kepura-puraan ini menimbulkan masalah besar:
- Penumpukan Emosi: Emosi yang ditekan tidak hilang; ia menumpuk dan seringkali meledak dalam bentuk yang lebih merusak, seperti depresi, kecemasan kronis, atau bahkan masalah fisik (psikosomatis).
- Isolasi Sosial: Jika Anda selalu menunjukkan bahwa Anda baik-baik saja, orang lain akan berhenti menawarkan bantuan. Anda merasa terisolasi dalam masalah Anda sendiri.
Sehat mental adalah tentang fleksibilitas emosionalākemampuan untuk merasa sedih saat ada alasan untuk sedih, dan bahagia saat ada alasan untuk bahagia.
Fakta Ilmiah: Mengubah Rasa Sakit Menjadi Pertumbuhan
Psikologi positif yang sehat (authentic positivity) tidak menolak rasa sakit, tetapi menggunakannya sebagai bahan bakar untuk pertumbuhan.
Cara Menghindari Toxic Positivity:
- Validasi: Mengakui dan menerima emosi kita sendiri dan emosi orang lain tanpa menghakiminya. Ucapkan, “Wajar kamu sedih karena kehilangan itu.”
- Memberi Ruang: Memberikan diri sendiri dan orang lain ruang untuk berduka atau merasa kecewa. Proses pemulihan membutuhkan waktu, bukan switch on/off emosi.
- Fokus pada Aksi: Setelah emosi divalidasi, barulah kita mengarahkan energi ke solusi. Contoh: “Sedih itu wajar. Setelah kamu merasa lebih baik, mari kita susun rencana langkah selanjutnya.”
Kesimpulan: Sikap positif yang benar adalah sikap yang realistis. Ia tidak melarang kita sedih, tetapi mendorong kita untuk menghadapi kesedihan itu dengan jujur dan mencari pertumbuhan setelahnya. Sebaliknya, Toxic Positivity adalah ilusi yang mematikan, menyembunyikan masalah di balik senyum palsu.
Related Keywords Toxic Positivity, kesehatan mental, emosi negatif, psikologi positif, stres, coping mechanism, depresi
