Budaya

Kereta Berusia 100 Tahun Antarkan Jenazah Raja Pakubuwono XIII dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat

Surakarta – Sebuah kereta pusaka berusia sekitar satu abad dipersiapkan untuk mengantarkan jenazah Raja Keraton Surakarta, Pakubuwono XIII, dalam prosesi adat yang akan berlangsung di Solo. Keberadaan kereta putih ini menambah khidmat perjalanan terakhir sang raja dan menyiratkan nilai sejarah yang dalam bagi lembaga keraton.


Sejarah & Makna Kereta Pusaka

Kereta jenazah tersebut diketahui telah digunakan sejak era Paku Buwono VII dan kemudian mengalami restorasi pada masa pemerintahan Paku Buwono X—artinya usianya telah menembus lebih dari 100 tahun.
Kereta ini disimpan dalam bangsal khusus di kompleks Keraton Surakarta dan memiliki warna khas putih dengan ornamen emas, empat ban berukuran berbeda, serta bagian tertutup yang terbuka tanpa bangku, khas kereta jenazah tradisional keraton.
Ketua atau kerabat keraton menyampaikan bahwa kereta akan ditarik oleh enam hingga delapan ekor kuda—menegaskan bahwa prosesi tersebut tetap mempertahankan nuansa adat kerajaan.


Rangkaian Prosesi Kirab & Pemakaman

Prosesi kirab jenazah akan dimulai dari dalam Keraton Kasunanan Surakarta — melewati Alun-Alun Selatan, Plengkung Gading, Jalan Veteran, dan kemudian Jalan Slamet Riyadi menuju Loji Gandrung yang merupakan rumah dinas wali kota Solo. Di titik transit tersebut, peti jenazah akan dipindahkan ke ambulans untuk dilanjutkan ke pemakaman di kompleks makam Raja-Raja Mataram di Imogiri, Bantul, DIY.
Sebelum keberangkatan, jenazah akan disemayamkan di Masjid Pujosono dalam lingkungan keraton sebagai bagian dari rangkaian upacara adat.


Implikasi Budaya & Historis

Penggunaan kereta pusaka yang telah berusia satu abad menggambarkan betapa prosesi pemakaman raja keraton bukan sekadar perkara pemindahan jenazah, tetapi ritual yang sarat makna dan simbol. Ini memperkuat posisi Keraton Surakarta sebagai lembaga adat yang masih hidup dan dihormati.
Bagi masyarakat Surakarta dan sekitarnya, momen ini menjadi pengingat akan warisan sejarah Mataram-Jawa, adat kerajaan, dan kontinuitas kebudayaan lokal. Prosesi ini juga menjadi sorotan bagi pelestarian artefak budaya seperti kereta jenazah, yang jika terawat baik dapat menjadi bagian dari edukasi dan wisata heritage budaya.


Tantangan & Peluang Pelestarian

Meski kereta pusaka ini masih digunakan, tantangan pelestarian artefak semacam ini cukup besar: mulai dari kondisi fisik kereta yang menua, biaya restorasi dan pemeliharaan, hingga dokumentasi yang belum selalu lengkap.
Namun, aspek penggunaannya dalam prosesi raja telah memberikan peluang untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap artefak budaya keraton. Ini bisa mendorong pengembangan museum keraton, upaya edukasi kepada generasi muda, hingga pariwisata budaya yang lebih luas di Solo dan Jawa Tengah.


Kesimpulan

Pemakaian kereta pusaka berusia 100 tahun dalam kirab jenazah Pakubuwono XIII bukan sekadar perjalanan akhir sang raja, melainkan ritual yang menyatukan sejarah, adat, dan identitas budaya Jawa. Dengan prosesi yang tetap mempertahankan standar kerajaan—kuda-tarik, rute khidmat, artefak bersejarah—Keraton Kasunanan Surakarta menunjukkan bahwa warisan budaya masih relevan di era modern.
Melalui rangkaian simbol dan upacara tersebut, masyarakat diajak untuk menghormati leluhur, memahami nilai sejarah, dan turut menjaga kelangsungan tradisi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *