Fakta vs MitosSains

Fakta vs Mitos: Benarkah PLTS Atap Selalu Lebih Ramah Lingkungan daripada Pembangkit Batubara?

Jakarta, 27 Oktober 2025 — Di tengah gencarnya kampanye energi hijau, PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) atap jadi idola: ramah lingkungan, hemat biaya, dan bikin rumah kekinian. Dari perumahan elite di Jakarta sampai kos-kosan di Jogja, panel surya nampang di atap, janjikan bumi lebih sehat ketimbang pembangkit batubara yang asapnya bikin sesak. Tapi, benarkah PLTS atap selalu lebih hijau? Di balik sinar matahari yang gratis, ada rantai produksi panel surya, limbah baterai, dan dampak lingkungan yang jarang dibahas. Kisah ini, dengan data dari penelitian dan cerita nyata, kupas fakta dan mitos soal PLTS atap—biar kita tahu: apa bener solusi ini sebersih yang diklaim, atau cuma hijau di permukaan?

Mitos 1: PLTS Atap Nol Emisi, Batubara Penuh Polusi

Mitos: PLTS atap 100% ramah lingkungan karena pakai energi matahari, nggak keluar asap kayak pembangkit batubara yang bikin polusi udara dan pemanasan global.

Fakta: PLTS atap memang minim emisi saat operasi, tapi produksinya nggak nol polusi. Menurut Nature Sustainability (2023), pembuatan panel surya (silikon kristalin) butuh energi besar: tambang silikon, pemurnian, dan manufaktur di pabrik (kebanyakan di China) hasilkan 50-70 gram CO2 per kWh listrik yang dihasilkan panel selama umurnya. Bandingkan dengan batubara: 800-1000 gram CO2/kWh (IEA, 2024). Jadi, PLTS jauh lebih bersih saat dipakai, tapi proses produksinya ninggalin jejak karbon—setara 10-20% emisi batubara untuk siklus hidup penuh.

Di Indonesia, PLTS atap lagi ngetren: PLN catat 12.000 rumah pakai PLTS atap (2025), hemat 15 GWh listrik per tahun, kurangin 12.000 ton CO2 dibandingkan batubara. Tapi, rantai pasoknya bermasalah. Silikon ditambang di Kalimantan, dikirim ke China buat diproses, lalu impor balik—transportasi ini tambah jejak karbon 5-10% (data Kemenperin, 2024). Buah simalakama: PLTS atap lebih hijau, tapi nggak sebersih yang dibayangin.

Contoh nyata: Pak Budi (40), warga Depok, pasang PLTS atap 5 kWp (Rp 70 juta). “Tagihan listrik turun 60%, rasanya bantu bumi,” katanya. Tapi, panelnya dari China, baterainya lithium-ion—produksinya telan energi setara 2 ton CO2, belum limbah kalau baterai rusak.

Mitos 2: PLTS Atap Bebas Limbah, Batubara Bikin Sampah Abu Beracun

Mitos: PLTS atap nggak hasilkan limbah, beda sama batubara yang tinggalin abu beracun (fly ash) dan polutan berat kayak merkuri.

Fakta: PLTS atap minim limbah saat operasi, tapi limbah produksi dan akhir hayat panel jadi masalah. Panel surya umurnya 20-25 tahun; setelah itu, jadi limbah elektronik (e-waste). Riset Environmental Science & Technology (2022) bilang panel surya bekas bisa hasilkan 10 juta ton e-waste global pada 2030, termasuk kadmium dan timbal yang beracun kalau nggak didaur ulang. Di Indonesia, fasilitas daur ulang panel surya cuma 2 (di Batam dan Surabaya), kapasitasnya cuma 500 ton/tahun (Kemen LHK, 2024). Bandingkan dengan abu batubara: PLTU di Indonesia hasilkan 7 juta ton fly ash/tahun, 30% didaur ulang untuk semen, sisanya bikin polusi tanah (data PLN, 2024).

Baterai PLTS (lithium-ion atau lead-acid) juga jadi bom waktu. Riset Greenpeace (2023) bilang daur ulang baterai di Indonesia cuma 10%, sisanya berakhir di TPA atau dibakar—lepasin logam berat ke air tanah. Batubara memang lebih kotor (merkuri dari PLTU Cemari Teluk Jakarta, 2023), tapi PLTS atap nggak bebas dosa. Kalau nggak dikelola, limbah panel dan baterai bisa jadi “batubara baru” di masa depan.

Contoh: Di Bali, komunitas eco-village pasang 200 PLTS atap, hemat 1 GWh listrik. Tapi, tahun lalu, 20 panel rusak (banjir), nggak ada yang daur ulang—akhirnya numpuk di gudang.

Mitos 3: PLTS Atap Selalu Lebih Sustainable untuk Indonesia

Mitos: PLTS atap solusi hijau terbaik buat Indonesia, yang punya sinar matahari berlimpah, ketimbang PLTU batubara yang kuno dan kotor.

Fakta: PLTS atap punya potensi besar di Indonesia (radiasi matahari rata-rata 4,8 kWh/m²/hari, data BMKG), tapi keberlanjutan tergantung ekosistem. Produksi lokal panel surya cuma 10% dari kebutuhan (Kemenperin, 2024), sisanya impor dari China—tambah jejak karbon transportasi. PLTU batubara, meski kotor, masih dominasi (60% listrik Indonesia, PLN 2025), karena murah (Rp 1.000/kWh vs PLTS Rp 2.000/kWh tanpa subsidi). Transisi ke PLTS butuh investasi Rp 1.500 triliun sampai 2030 (IESR, 2024), dan tanpa kebijakan daur ulang, limbah panel bakal bikin masalah baru.

Di sisi lain, batubara punya dampak sosial-lingkungan parah: 50.000 kematian dini per tahun akibat polusi PLTU di Asia Tenggara (Greenpeace, 2023). PLTS atap menang di emisi rendah, tapi keberlanjutan tergantung infrastruktur daur ulang dan produksi lokal. Jakarta, misalnya, target 100 MW PLTS atap 2030 (DLH DKI), tapi baru capai 10 MW—terhambat biaya dan regulasi.

Contoh: Mbak Sari (35), pemilik warung di Jogja, pasang PLTS atap lewat pinjaman bank. “Listrik murah, tapi khawatir baterai rusak nanti dibuang kemana,” katanya. Ini cermin tantangan: hijau, tapi nggak gampang.

Pelajaran dan Solusi buat Indonesia

PLTS atap lebih ramah lingkungan ketimbang batubara, tapi nggak sempurna. Buat beneran hijau, Indonesia perlu:

  1. Produksi Lokal: Kembangkan industri panel surya di Kalimantan atau Jawa, kurangi impor (hemat 10% jejak karbon, Kemenperin).
  2. Daur Ulang Wajib: Bangun fasilitas e-waste di tiap provinsi, seperti rencana KLHK 2026, target daur ulang 50% panel dan baterai.
  3. Subsidi Cerdas: Alihkan subsidi BBM (Rp 200 triliun/tahun, APBN 2024) ke PLTS atap untuk UMKM dan rumah tangga.
  4. Edukasi Publik: Kampanye “PLTS Hijau” lewat influencer, jelasin cara buang panel aman, kayak edukasi polusi New Delhi (CNN Indonesia, 25/10/2025).

Buat rakyat kayak Pak Budi atau Mbak Sari, PLTS atap janjikan listrik murah dan bumi sehat, tapi tanpa sistem daur ulang dan produksi lokal, kita cuma pindahin polusi dari udara ke tanah. Seperti kata Dr. Budi Haryanto (UI): “PLTS hijau kalau dikelola baik. Kalau nggak, cuma ganti satu masalah dengan masalah lain.” Indonesia, dengan matahari melimpah, punya peluang besar—tapi hijau sejati butuh kerja keras, bukan cuma panel di atap.

📌 Sumber: Nature Sustainability (2023), IEA (2024), Kemenperin, PLN, IESR, Greenpeace (2023), KLHK, BMKG, diolah oleh tim kilasjurnal.id.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *