Fakta vs MitosSains

Fakta vs Mitos: Pohon Kota Cuma Hiasan, Tidak Akan Bisa Lawan Polusi Jakarta?

Jakarta, 24 Oktober 2025 — Di tengah kemacetan Jakarta yang menderu, dengan asap knalpot dan debu konstruksi memenuhi udara, pohon-pohon di trotoar dan taman kota sering dianggap sekadar pemanis pemandangan. “Pohon cuma hiasan, nggak ngaruh ke polusi,” begitu kata sebagian warga ibu kota, terutama saat Indeks Kualitas Udara (AQI) Jakarta menyentuh 180—kategori tidak sehat—pada September 2025. Tapi, benarkah ruang hijau urban seperti pohon di sepanjang Sudirman atau taman di Menteng tak punya peran melawan polusi? Atau ini cuma mitos yang lahir dari ketidakpahaman kita tentang ekosistem kota? Mari bedah fakta, data ilmiah, dan kisah nyata dari Jakarta untuk ungkap peran pohon kota—jauh lebih dari sekadar estetika, tapi juga pahlawan tak terlihat dalam pertarungan melawan udara kotor.

Mitos 1: Pohon Kota Tak Mampu Kurangi Polusi Udara

Mitos: Pohon di Jakarta, seperti angsana atau mahoni di pinggir jalan, tak cukup banyak atau kuat untuk bersihkan udara dari PM2.5, karbon monoksida, atau nitrogen dioksida. Polusi dari 12 juta kendaraan dan industri terlalu besar untuk ditangani tanaman.

Fakta: Pohon kota punya peran signifikan, meski bukan obat ajaib. Studi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) 2023 menunjukkan satu pohon dewasa, seperti trembesi atau beringin, bisa serap 10-30 kg karbon dioksida (CO2) per tahun, setara emisi satu motor bensin dalam sebulan. Pohon juga tangkap partikel PM2.5—debu halus penyebab kanker paru—lewat daunnya. Riset Badan Litbang Kementerian Lingkungan Hidup (KLHK) 2024 catat, 100 pohon dewasa di taman kota (seperti Taman Suropati) bisa kurangi PM2.5 hingga 15% dalam radius 200 meter, meski efeknya lokal.

Di Jakarta, Dinas Pertamanan dan Hutan Kota laporkan 1,2 juta pohon pada 2025, naik dari 900 ribu di 2020, tapi masih jauh dari ideal (30% tutupan hijau kota). Trembesi di sepanjang Thamrin-Sudirman, misalnya, serap 12 ton CO2 per tahun per hektar, bantu redam polusi knalpot. Penelitian Universitas Indonesia (UI) 2024 temukan bahwa taman kota dengan vegetasi lebat, seperti Taman Menteng, turunkan AQI dari 150 (tidak sehat) ke 100 (sedang) di jam sibuk. “Pohon bukan cuma serap karbon, tapi juga saring debu dan dinginkan udara,” kata Dr. Andi Gunawan, pakar ekologi UI. Tapi, ia akui, tanpa pengendalian emisi kendaraan, efek pohon terbatas.

Contoh nyata: Warga Menteng, seperti Ibu Sari (42), bilang udara di dekat Taman Suropati “lebih segar” dibandingkan di jalan utama. “Kalau lari pagi, napas nggak sesak,” katanya. Tapi di daerah tanpa pohon, seperti Tanah Abang, AQI sering tembus 200. Ini bukti pohon punya dampak lokal, meski tak bisa atasi polusi skala kota sendirian.

Mitos 2: Pohon Kota Hanya Estetika, Tak Beri Dampak Nyata

Mitos: Penanaman pohon oleh Pemprov DKI atau CSR perusahaan cuma gimmick estetika—buang-buang anggaran tanpa manfaat lingkungan. Lebih baik fokus ke transportasi umum atau larang PLTU batu bara.

Fakta: Pohon kota punya manfaat nyata, dari lingkungan hingga sosial. Riset KLHK 2023 tunjukkan bahwa ruang hijau urban kurangi suhu kota 2-5°C, lawan efek “heat island” Jakarta yang capai 35°C di musim kemarau. Pohon seperti angsana atau flamboyan di trotoar Thamrin turunkan suhu aspal 3°C, bikin pejalan kaki lebih nyaman dan kurangi kebutuhan AC—hemat energi hingga 10% di gedung sekitar, menurut Badan Pengelola Cikini (2024).

Selain itu, pohon tingkatkan kesehatan mental. Studi Universitas Gajah Mada (UGM) 2024 temukan warga dekat taman kota (misalnya Taman Ismail Marzuki) punya tingkat stres 20% lebih rendah dibandingkan yang tinggal di daerah minim hijau. Di Jakarta, program “Jakarta Hijau” Pemprov DKI tanam 50.000 pohon di 2024, ciptakan 12 taman baru di Kalideres dan Cakung, yang kurangi polusi debu 10-12% di area itu. “Pohon bukan cuma hiasan, tapi investasi kesehatan dan iklim,” kata Kepala Dinas Pertamanan DKI, Budi Santoso.

Namun, tantangan nyata ada: banyak pohon mati karena perawatan buruk atau vandalisme. Data Dinas Pertamanan 2025: 15% pohon baru mati dalam setahun akibat kurang air atau akar rusak oleh konstruksi trotoar. CSR perusahaan seperti Unilever (tanam 10.000 pohon di Ancol) sering tak lanjutkan pemeliharaan, kurangi dampak jangka panjang. Jadi, pohon bukan gimmick, tapi butuh komitmen serius.

Mitos 3: Jakarta Terlalu Padat, Pohon Tak Bisa Atasi Polusi Skala Besar

Mitos: Dengan 11 juta penduduk dan 6 juta kendaraan harian, Jakarta terlalu padat untuk ruang hijau. Penanaman pohon tak akan cukup lawan polusi dari PLTU Cirebon atau emisi kapal di Tanjung Priok.

Fakta: Jakarta memang padat, tapi ruang hijau strategis tetap efektif. Studi World Resources Institute (WRI) 2024 sebut kota dengan 20-30% tutupan hijau (seperti Singapura) punya AQI 30-40 poin lebih rendah dibandingkan kota tanpa vegetasi. Jakarta saat ini cuma 10% tutupan hijau, jauh di bawah standar WHO (15 m² per kapita). Jika naik ke 20%, estimasi WRI, PM2.5 bisa turun 25% di pusat kota, selamatkan 5.000 jiwa per tahun dari penyakit pernapasan (data Badan Kesehatan DKI 2024).

Contoh sukses: Taman BMW di Jakarta Utara, bekas lahan kosong, kini punya 2.000 pohon dan turunkan PM10 18% di radius 500 meter. Program “Adopsi Pohon” DKI, yang libatkan warga tanam dan rawat pohon, tambah 8.000 pohon di 2025, dengan 70% tingkat hidup. Ini tunjukkan bahwa meski Jakarta padat, ruang seperti median jalan, atap hijau, atau taman vertikal bisa maksimalkan dampak.

Tapi, pohon bukan solusi tunggal. Emisi kendaraan (60% polusi Jakarta, menurut KLHK) butuh transportasi umum massal, seperti MRT atau LRT, yang baru layani 5% warga. PLTU batu bara di Banten dan Jabar sumbang 25% PM2.5 Jakarta—larangan operasi atau konversi ke energi terbarukan lebih krusial. “Pohon penting, tapi tanpa aturan emisi ketat, seperti Euro 5 untuk kendaraan, polusi tetap tinggi,” kata Dr. Andi, pakar lingkungan UI.

Realitas Jakarta: Tantangan dan Harapan

Jakarta punya 1,2 juta pohon, tapi distribusi tak merata: Jakarta Selatan (Menteng, Kebayoran) punya 30% lebih banyak pohon dibandingkan Jakarta Utara (Tanjung Priok). Polusi di utara, dekat pelabuhan, sering capai AQI 200, sementara selatan di bawah 150. Program “Jakarta Hijau” targetkan 2 juta pohon pada 2030, tapi anggaran Rp 500 miliar per tahun terkendala birokrasi dan lahan. Warga seperti Bapak Joko (35), pedagang di Glodok, skeptis: “Pohon di trotoar kecil, kendaraan berjuta-juta. Nggak ngaruh.” Tapi di sisi lain, komunitas seperti Jakarta Berkebun tanam 3.000 pohon di 2024, ciptakan “oase kota” di Cikini yang kurangi debu 10%.

Solusi ke depan: kombinasi pohon dan teknologi. Atap hijau di gedung Sarinah kurangi panas 4°C, sementara pohon trembesi di Ancol serap 15 ton CO2 per hektar. Edukasi warga juga kunci: program “Adopsi Pohon” libatkan 5.000 keluarga di 2025, ajarkan anak-anak rawat tanaman. “Kalau setiap warga tanam satu pohon, Jakarta bisa hijau dalam 5 tahun,” kata Budi Santoso. Tapi, tanpa penegakan aturan emisi dan perluasan transportasi umum, pohon hanya bantu lokal, bukan kota.

Pelajaran untuk Kita Semua

Pohon kota bukan hiasan semata—mereka saring udara, dinginkan kota, dan selamatkan jiwa. Tapi mitos bahwa mereka tak berguna lahir dari ekspektasi berlebih dan kurangnya solusi terpadu. Jakarta butuh lebih banyak pohon (target 30% tutupan hijau), aturan emisi ketat, dan transportasi ramah lingkungan. Kisah nyata: warga Menteng yang joging di taman, anak-anak yang main di Ancol, semua rasakan udara lebih bersih berkat pohon. Ini bukan cuma soal polusi, tapi kualitas hidup—untuk kita, anak kita, dan Jakarta yang lebih hijau.

📌 Sumber: KLHK, IPB, UI, WRI, Dinas Pertamanan DKI, Jakarta Berkebun, diolah oleh tim kilasjurnal.id.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *