BudayaFakta vs Mitos

Fakta vs Mitos: Benarkah Gen Z yang Fasih Bahasa Inggris Pasti Anti-Sunda/Jawa/Batak?

Generasi Z (Gen Z), yang tumbuh besar di era globalisasi dan media sosial, sering dituduh sebagai generasi yang ‘tercabut’ dari akar budayanya. Salah satu kritik yang paling umum adalah bahwa Gen Z yang fasih berbahasa Inggris—menggunakan istilah asing, mengikuti tren global, dan akrab dengan budaya Barat—cenderung bersikap anti atau mengabaikan identitas regionalnya (seperti Sunda, Jawa, Batak, dan lainnya).

Anggapan bahwa penguasaan bahasa asing secara otomatis menghapus kecintaan pada bahasa dan budaya lokal adalah mitos yang lahir dari kekhawatiran kultural, bukan dari data sosiologis. Pada kenyataannya, fenomena ini adalah manifestasi dari Bilingualisme Adaptif, di mana Gen Z tidak meninggalkan identitas, melainkan menambahkan lapisan identitas baru.

Mitos: Bahasa adalah Nol Sum (Zero-Sum Game)

Mitos ini berakar pada pandangan bahwa penguasaan Bahasa Inggris (sebagai bahasa global) harus mengorbankan penguasaan Bahasa Ibu (Bahasa Sunda, Jawa, dll.). Jika salah satu bertambah, yang lain harus berkurang, seperti permainan yang skornya nol.

Fakta: Otak manusia mampu mengelola dan memisahkan banyak bahasa tanpa mengorbankan identitas utama. Bagi Gen Z, Bahasa Inggris adalah alat fungsional untuk mengakses pendidikan, pekerjaan, dan budaya global, sementara bahasa daerah (seperti Bahasa Jawa atau Bahasa Batak) adalah alat identitas dan koneksi emosional dengan keluarga dan leluhur.

Para ahli sosiologi bahasa menyebut fenomena ini sebagai Kompetensi Komunikatif yang Terdiferensiasi. Gen Z menggunakan bahasa yang berbeda untuk ranah sosial yang berbeda (domain switching):

Domain KomunikasiBahasa yang DiprioritaskanFungsi Bahasa
Pekerjaan/Pendidikan TinggiBahasa InggrisAkses profesional dan akademik
Komunitas Digital/InternetBahasa Inggris/Indonesia slangEksplorasi, kreativitas, dan networking global
Keluarga/Acara AdatBahasa Sunda/Jawa/BatakSolidaritas, penghormatan, dan identitas

Ekspor ke Spreadsheet

Gen Z tahu persis kapan harus menggunakan pronoun formal dan kapan harus menggunakan Bahasa Inggris yang santai. Kemampuan ini menunjukkan kecerdasan adaptif, bukan hilangnya identitas.

Code-Switching: Manifestasi Budaya Baru

Salah satu bukti paling nyata bahwa Gen Z tidak anti-lokal adalah praktik alih kode (code-switching) atau campur kode (code-mixing) yang masif.

Ketika Gen Z dari Bandung berbicara dengan temannya, mereka mungkin mencampur Bahasa Sunda, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris (misalnya: “Coba deh di-refresh, bisi ada update baru, atuh!”). Praktik ini, alih-alih merusak bahasa, justru menciptakan dialek urban yang kaya dan dinamis.

Code-switching adalah pernyataan budaya:

  1. Inklusivitas Jaringan: Ini menunjukkan bahwa mereka termasuk dalam lingkaran sosial yang menghargai kedua dunia—tradisi lokal dan modernitas global.
  2. Efisiensi Ekspresi: Mereka menggunakan bahasa yang paling efektif untuk menyampaikan konsep tertentu. Konsep teknologi atau bisnis sering lebih mudah diungkapkan dalam Bahasa Inggris, sementara ungkapan emosional atau kekerabatan lebih kuat dalam bahasa daerah.

Dengan demikian, Gen Z yang fasih Bahasa Inggris tidak menghilangkan identitas Sunda/Jawa/Batak mereka; mereka mengenakan identitas tersebut bersama-sama dengan identitas global mereka.

Peran Keluarga dan Kehadiran Digital Budaya Lokal

Meskipun kritik terhadap hilangnya bahasa daerah di perkotaan memang beralasan (karena tekanan lingkungan yang lebih dominan Bahasa Indonesia), itu bukan berarti ada penolakan budaya.

Banyak Gen Z perkotaan yang mengambil inisiatif untuk:

  • Mempelajari Bahasa Ibu Formal: Kembali belajar bahasa daerah yang lebih kaku (seperti Krama dalam Bahasa Jawa atau Basa Hormat dalam Bahasa Sunda) sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua atau kakek-nenek.
  • Mendigitalkan Budaya Lokal: Menggunakan TikTok atau Instagram untuk mempopulerkan makanan daerah, fashion etnik, atau musik tradisional yang dimodifikasi.

Fasih Bahasa Inggris adalah kompetensi. Mempertahankan Bahasa Sunda/Jawa/Batak adalah pilihan identitas. Bagi Gen Z, keduanya adalah aset yang dapat hidup berdampingan. Mitos tentang hilangnya identitas regional adalah ketakutan dari generasi tua terhadap perubahan bentuk komunikasi, bukan perubahan esensi diri.


📌 Sumber: Kajian sosiologi bahasa dan studi komunikasi antargenerasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *