Fakta vs MitosGaya Hidup

Fakta vs Mitos: Benarkah Semua Generasi Milenial Perkotaan Bersifat Individualistis?

Generasi Milenial, terutama yang tinggal di kawasan metropolitan atau urban, sering dicap sebagai generasi yang sangat individualistis. Label ini dilekatkan karena kecenderungan mereka untuk memprioritaskan pilihan pribadi, karier mandiri, dan menunda komitmen institusional seperti pernikahan atau pembelian rumah. Pandangan umum mengasumsikan bahwa kehidupan kota yang serba cepat, anonim, dan didorong oleh persaingan telah menghilangkan nilai-nilai kolektif yang dijunjung tinggi oleh generasi sebelumnya.

Namun, benarkah Milenial di perkotaan benar-benar individualistis? Analisis sosiologis dan psikologi sosial menunjukkan bahwa anggapan ini adalah penyederhanaan yang gagal memahami bagaimana konsep kolektivitas telah berevolusi di era digital.

Mitos: Individualisme Berarti Anti-Sosial

Mitos individualistis sering disamakan dengan anti-sosial atau tidak peduli terhadap komunitas.

Fakta: Generasi Milenial urban memang mempraktikkan Individualisme Eksploratif, yaitu memprioritaskan pengembangan diri, otentisitas, dan otonomi pribadi. Akan tetapi, otonomi ini tidak lantas membuat mereka terisolasi. Milenial beralih dari Kolektivisme Vertikal menuju Kolektivisme Jaringan (Networked Collectivism).

  • Kolektivisme Vertikal: Ini adalah kolektivisme tradisional (misalnya, yang dipraktikkan oleh Generasi Baby Boomer atau Generasi X) yang didasarkan pada hierarki, kepatuhan pada institusi (keluarga besar, kantor, RT/RW), dan identitas yang didikte oleh status sosial.
  • Kolektivisme Jaringan: Milenial urban membangun komunitas berdasarkan minat, nilai, dan tujuan bersama, terlepas dari ikatan geografis atau keluarga. Ini terlihat jelas dari lonjakan komunitas hobi, co-working space, kelompok relawan digital, atau bahkan financial community yang terbentuk secara online. Mereka memilih siapa yang menjadi ‘keluarga’ atau ‘komunitas’ mereka.

Oleh karena itu, Milenial urban bukanlah anti-sosial. Mereka hanya selektif dalam menginvestasikan waktu dan energi mereka, menolak ikatan kolektif yang dirasa memaksa, tetapi sangat loyal pada jaringan yang mereka pilih.

Peran Ekonomi dan Teknologi dalam Perubahan Nilai

Pergeseran ini sangat didorong oleh dua pilar utama kehidupan urban modern: ekonomi dan teknologi.

1. Realitas Ekonomi Urban

Tingginya biaya hidup di perkotaan (sewa rumah, transportasi, kesehatan) memaksa Milenial untuk fokus pada pencapaian karier dan stabilitas finansial pribadi terlebih dahulu. Jika Generasi X mampu membeli rumah pada usia 30-an, Milenial mungkin baru bisa melakukannya pada usia yang jauh lebih tua.

Fokus yang tampak individualistis pada karier sebetulnya adalah mekanisme bertahan hidup (survival mechanism) dalam ekonomi yang kurang stabil dan sangat kompetitif. Mereka tidak menolak kolektivitas; mereka menunda kolektivitas (seperti mendirikan keluarga) sampai dasar ekonomi pribadi mereka kuat.

2. Ketersediaan Teknologi

Teknologi menghilangkan kebutuhan akan kedekatan fisik untuk mempertahankan ikatan sosial. Milenial dapat menjaga hubungan erat dengan teman lama, keluarga, dan mentor lintas benua. Aplikasi komunikasi dan media sosial memungkinkan mereka menjadi “individualistis” secara geografis (hidup mandiri di kota besar) tanpa harus menjadi terisolasi secara emosional.

Mereka membentuk koneksi yang cair (liquid connections), yang memungkinkan mereka keluar-masuk berbagai kelompok sosial sesuai kebutuhan, sebuah adaptasi yang sangat diperlukan dalam lingkungan kota yang dinamis.

Fenomena Sense of Community yang Berbeda

Meskipun Milenial mungkin jarang terlibat dalam kegiatan RT/RW tradisional, mereka menunjukkan sense of community yang kuat dalam bentuk yang berbeda:

  • Aktivisme Digital: Mereka cepat bersatu untuk tujuan sosial atau politik melalui kampanye online atau crowdfunding, menunjukkan kesadaran kolektif terhadap isu yang lebih besar dari lingkungan fisik mereka.
  • Co-living dan Co-working: Ini adalah model bisnis yang didasarkan pada kebutuhan Milenial untuk memiliki ruang pribadi yang otonom, tetapi dengan akses mudah ke interaksi sosial yang terkurasi. Ini adalah bentuk kolektivitas yang dimodernisasi dan dikomodifikasi.

Pada akhirnya, label individualistis hanyalah cara cepat untuk menjelaskan generasi yang memilih otonomi atas kepatuhan. Milenial urban tidak membuang nilai-nilai sosial; mereka hanya merumuskannya kembali. Mereka adalah generasi yang membawa kolektivisme keluar dari lingkungan fisik yang sempit dan ke dalam jaringan digital yang luas, menciptakan komunitas yang lebih terpersonal dan adaptif terhadap tantangan abad ke-21.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *