🏥 Kesehatan

Belum Ada Obat Alzheimer, Dosen FK IPB University Sebut Gaya Hidup Sehat sebagai Benteng Utama

Bogor Kilasjurnal.id,22 September 2025 — Hingga kini, dunia medis belum menemukan terapi yang benar-benar menyembuhkan penyakit Alzheimer. Namun, menurut dr. Yeni Quinta Mondiani, dosen Fakultas Kedokteran IPB University, ada cara konkret yang dapat membantu menekan risiko penyakit ini: melalui penerapan gaya hidup sehat.

Dalam rangka memperingati Hari Alzheimer Sedunia, dr. Yeni menyampaikan bahwa Alzheimer adalah bentuk demensia yang paling sering dijumpai secara global, sekitar 60–80 persen dari seluruh kasus demensia. Ia menegaskan bahwa pencegahan sangat krusial karena setelah gejala muncul, kerusakan otak cenderung progresif dan sulit untuk dibalikkan.

Memahami Alzheimer dan Demensia

Menurut penjelasan dr. Yeni, demensia bukan penyakit tunggal, melainkan sekumpulan gejala berupa penurunan fungsi kognitif. Fungsi kognitif ini meliputi memori, perhatian, kemampuan mengenali ruang (visuospatial), bahasa, dan fungsi eksekutif (pengambilan keputusan). Ketika gejala-gejala tersebut sudah cukup parah hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, itulah yang disebut demensia.

Alzheimer biasanya berkembang secara lambat. Penurunan memori ringan menjadi gejala awal yang sering dianggap biasa, padahal itu bisa menjadi tanda awal penyakit ini. Seiring waktu, aspek kognitif lainnya juga akan terpengaruh hingga seseorang tidak lagi mampu melakukan aktivitas dasar mandiri seperti berpakaian atau makan sendiri.

Di samping Alzheimer, jenis demensia kedua paling banyak dijumpai adalah demensia vaskular, yang terkait dengan gangguan pembuluh darah di otak seperti akibat stroke. Kedua jenis ini sering saling tumpang tindih, terutama pada orang lanjut usia dengan faktor risiko kardiovaskular.

Faktor Penyebab dan Risiko Alzheimer

dr. Yeni menjelaskan bahwa salah satu penyebab Alzheimer terkait dengan penumpukan protein abnormal di otak, yaitu beta-amyloid. Penumpukan plak protein ini memicu kerusakan jaringan otak dan sel saraf, yang kemudian menyebabkan hilangnya fungsi kognitif secara bertahap.

Walau Alzheimer paling sering muncul di usia di atas 65 tahun, ada juga bentuk early onset Alzheimer atau demensia dini yang muncul sebelum usia 65 tahun. Dalam sejumlah kasus, mutasi genetik menjadi faktor pemicu utama.

dr. Yeni mengingatkan bahwa risiko penyakit ini meningkat jika seseorang memiliki faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, merokok, konsumsi alkohol berlebih, stres tinggi, dan gaya hidup tidak aktif. Faktor-faktor inilah yang menurutnya bisa dikendalikan jika seseorang sadar dan mulai dari sekarang.

Gaya Hidup Sehat: Strategi Pencegahan Nyata

Karena belum ada obat yang benar-benar menyembuhkan Alzheimer, dr. Yeni mengedepankan pencegahan melalui pola hidup sehat. Berikut langkah-langkah yang disarankan:

Aktivitas fisik teratur
Jalan kaki, olahraga ringan, atau aktivitas sehari-hari yang meningkatkan gerak tubuh. Ini membantu menjaga sirkulasi darah dan kesehatan pembuluh otak.

Mengelola stres
Stres kronis dapat memperburuk kerusakan sel saraf. Teknik relaksasi, meditasi, atau hobi bisa menjadi penyeimbang.

Hindari rokok dan alkohol
Zat toksik dari rokok dan alkohol dapat mempercepat kerusakan saraf dan pembuluh darah.

Kontrol faktor vaskular
Menjaga agar tekanan darah, gula darah, dan kolesterol tetap normal sangat penting guna mengurangi risiko demensia vaskular yang berkaitan.

dr. Yeni menegaskan, “Pencegahan jauh lebih baik daripada menunggu ketika fungsi kognitif sudah menurun.” Ia mengajak masyarakat untuk memulai langkah kecil sehari-hari agar risiko Alzheimer bisa ditekan.

Tantangan dan Realitas Penanganan Alzheimer

Meskipun rekomendasi gaya hidup sehat tergolong sederhana, penerapannya dalam masyarakat bukan tanpa tantangan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

Kesadaran dan edukasi
Banyak orang menganggap gejala penurunan daya ingat sebagai hal normal seiring bertambahnya usia. Padahal ini bisa menjadi alarm awal demensia. Perlu edukasi lebih masif agar masyarakat peka terhadap tanda-tanda awal.

Akses layanan kesehatan
Di wilayah terpencil, akses diagnosis dini atau layanan pemantauan kesehatan bisa terbatas. Hal ini menjadi hambatan dalam upaya deteksi dan pencegahan.

Konsistensi perilaku
Mengubah gaya hidup bukan perkara gampang — dibutuhkan disiplin jangka panjang dan dukungan lingkungan sosial agar kebiasaan sehat berkelanjutan.

Koordinasi lintas sektor
Upaya pencegahan Alzheimer idealnya melibatkan sektor kesehatan, pendidikan, lembaga kemasyarakatan, dan pemerintah agar program pencegahan bisa menyentuh semua lapisan masyarakat.

Pentingnya Mulai Dini dan Bertahap

dr. Yeni menyarankan agar upaya pencegahan Alzheimer dimulai sedini mungkin — bukan menunggu lansia baru kemudian disadarkan. Bahkan orang berusia 40–50 tahun sudah bisa menanamkan kebiasaan sehat: olahraga rutin, menjaga pola makan, mengurangi stres, serta memonitor tekanan darah dan gula darah.

Dengan pendekatan preventif sedini mungkin, penurunan kognitif bisa diperlambat atau dimanage dengan lebih baik. Masyarakat bisa tetap produktif lebih lama meski usia bertambah.

Ringkasan Pokok

Alzheimer adalah jenis demensia yang paling umum, dengan gejala penurunan fungsi kognitif yang progresif.

Hingga saat ini belum ada obat yang mampu menyembuhkan Alzheimer.

Risiko Alzheimer bisa ditekan melalui gaya hidup sehat: olahraga, manajemen stres, hindari rokok dan alkohol, serta mengontrol faktor vaskular.

Tantangan utama terletak pada edukasi masyarakat, akses layanan kesehatan, dan konsistensi perilaku jangka panjang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *