Fakta vs MitosSains

Fakta vs Mitos: Energi Terbarukan Bisa Gantikan Fosil 100%

KilasJurnal.id — Dunia sedang berpacu menuju masa depan hijau.
Panel surya, turbin angin, dan kendaraan listrik menjadi simbol zaman baru — masa ketika energi terbarukan diyakini akan menggantikan minyak, batu bara, dan gas bumi sepenuhnya.

Namun, pertanyaannya: apakah benar energi terbarukan bisa sepenuhnya menggantikan bahan bakar fosil?
Jawabannya tidak sesederhana “ya” atau “tidak.” Mari kita bedah dengan sains dan fakta lapangan.


Mitos: Energi Terbarukan Sudah Cukup untuk Dunia

Klaim paling populer adalah bahwa dunia sudah siap hidup tanpa fosil.
Padahal, data global menunjukkan sebaliknya.
Menurut laporan International Energy Agency (IEA) tahun 2024, energi fosil masih menyumbang 78% konsumsi energi dunia, sementara energi terbarukan (termasuk air, surya, dan angin) baru mencapai 15%.

Memang, kapasitas energi hijau meningkat pesat — terutama di Tiongkok, Amerika Serikat, dan Uni Eropa — tapi kecepatan transisi masih tertinggal dari laju permintaan energi global.
Setiap tahun, dunia menambah lebih dari 2% konsumsi energi, sedangkan pertumbuhan energi hijau hanya sekitar 1,3%.

📊 Fakta: Dunia masih bergantung pada energi fosil karena infrastruktur listrik global belum seluruhnya siap menopang 100% sumber energi variabel seperti surya dan angin.


Fakta: Teknologi Terbarukan Terus Melonjak

Meski belum bisa menggantikan sepenuhnya, laju perkembangan teknologi energi terbarukan sangat menjanjikan.
Harga modul surya turun 90% dalam satu dekade terakhir, sementara efisiensi turbin angin meningkat hingga 40% dibandingkan 10 tahun lalu.
Negara-negara Skandinavia, Islandia, dan Kosta Rika bahkan sudah mendekati 100% listrik bersumber dari energi terbarukan.

Di Indonesia, potensi energi surya mencapai 200 gigawatt, angin 60 gigawatt, dan panas bumi 23 gigawatt.
Namun, baru sekitar 13 gigawatt yang dimanfaatkan hingga 2025.

📈 Kesimpulan: Energi terbarukan sedang menuju arah dominan, tapi untuk menggantikan fosil 100%, masih dibutuhkan teknologi penyimpanan energi dan sistem distribusi cerdas (smart grid) yang andal.


Mitos: Energi Hijau Tidak Punya Dampak Lingkungan

Sering kali, energi terbarukan dianggap “sepenuhnya bersih.”
Padahal, tidak ada sistem energi yang benar-benar bebas dampak.
Panel surya membutuhkan logam langka seperti litium, kobalt, dan nikel, yang proses penambangannya tetap menimbulkan emisi karbon dan limbah beracun.

Selain itu, pembangunan turbin angin berskala besar dapat mengubah ekosistem lokal, terutama di area pesisir dan pegunungan.
Bahkan produksi baterai untuk kendaraan listrik masih menghasilkan lebih banyak emisi di tahap awal dibanding mobil konvensional, meski efisiensinya meningkat setelah beberapa tahun.

🌍 Fakta: Energi terbarukan tetap punya jejak karbon, tapi secara total hanya sekitar 10–20% dari emisi yang dihasilkan energi fosil.


Fakta: Dunia Menuju Campuran Energi (Energy Mix)

Para ilmuwan dan ekonom energi sepakat bahwa masa depan bukan tentang “menghapus” fosil sepenuhnya, melainkan mengubah komposisinya.
Artinya, bahan bakar fosil akan tetap ada — namun hanya sebagai sumber cadangan atau transisi, sementara energi terbarukan menjadi tulang punggung utama.

Misalnya, di Jerman dan Inggris, pembangkit listrik tenaga batu bara sudah banyak digantikan energi angin dan gas alam rendah karbon.
Sementara di Indonesia, pemerintah menargetkan rasio energi baru terbarukan mencapai 44% pada 2030 melalui proyek PLTS, PLTA, dan co-firing biomassa di PLTU.

🔋 Kesimpulan: Transisi energi berjalan bertahap. Dunia realistisnya akan memakai sistem campuran antara fosil, terbarukan, dan teknologi penyimpanan seperti hidrogen hijau.


Mitos: Negara Berkembang Tidak Siap Beralih ke Energi Hijau

Banyak anggapan bahwa negara berkembang seperti Indonesia terlalu bergantung pada batu bara dan belum siap untuk transisi energi.
Padahal, sejumlah inisiatif menunjukkan sebaliknya.
Program Just Energy Transition Partnership (JETP) senilai USD 20 miliar dari G7, misalnya, sedang membantu Indonesia mempercepat pensiun dini PLTU.

Selain itu, masyarakat lokal di NTT, Sulawesi, dan Papua mulai membangun PLTS komunal yang mampu menerangi desa-desa terpencil tanpa jaringan PLN.
Artinya, transisi tidak hanya dilakukan oleh negara, tetapi juga oleh komunitas akar rumput.

☀️ Fakta: Negara berkembang justru punya peluang besar untuk “melompat” ke sistem energi hijau tanpa harus melalui tahapan panjang seperti negara industri lama.


Fakta: Kunci Utama Ada di Penyimpanan Energi

Salah satu tantangan terbesar energi terbarukan adalah intermitensi — sinar matahari tidak bersinar setiap waktu, dan angin tidak selalu bertiup.
Solusinya terletak pada teknologi penyimpanan, terutama baterai litium, hydrogen storage, dan pumped hydro.

Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa harga baterai skala besar turun 80% sejak 2015, membuat sistem penyimpanan semakin ekonomis.
Namun, untuk menyeimbangkan pasokan energi seluruh dunia, dibutuhkan kapasitas penyimpanan lebih dari 3.000 gigawatt-jam — target yang masih jauh di depan.

⚙️ Kesimpulan: Energi terbarukan bisa menggantikan fosil hanya jika sistem penyimpanan dan distribusinya mampu beroperasi dalam skala besar dan efisien.


Penutup: Menuju Masa Depan Realistis dan Hijau

Jadi, apakah energi terbarukan bisa menggantikan fosil 100%?
Jawabannya: belum — tapi sangat mungkin.
Bukan karena teknologi belum siap, tapi karena dunia masih beradaptasi secara sosial, ekonomi, dan politik.

Transisi energi adalah maraton, bukan sprint.
Dan seperti kata Direktur IEA, Fatih Birol,

“Setiap kilowatt energi terbarukan yang kita hasilkan hari ini adalah investasi untuk masa depan anak-anak kita.”

Indonesia, dengan kekayaan alam dan posisi strategis di khatulistiwa, punya peluang besar menjadi pusat energi bersih Asia Tenggara.
Yang dibutuhkan bukan hanya teknologi, tapi juga kemauan politik, kesadaran publik, dan keberanian untuk berubah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *