Fakta vs Mitos: Gunung Api di Indonesia Bisa Mati Total
Indonesia dikenal sebagai negeri seribu gunung, dan sebagian besar dari gunung itu adalah gunung api aktif. Namun di tengah kekaguman dan kewaspadaan terhadap aktivitas vulkanik, sering muncul anggapan bahwa ada gunung yang sudah “mati total” — tidak akan pernah meletus lagi. Pertanyaannya: apakah gunung berapi benar-benar bisa mati selamanya?
Keyakinan ini sudah lama beredar di masyarakat, terutama di sekitar gunung yang telah lama tidak menunjukkan aktivitas. Gunung seperti Merbabu, Ungaran, atau Burangrang, kerap dianggap telah mati karena tidak lagi mengeluarkan asap atau gempa vulkanik. Tapi benarkah demikian?
Mitos: Gunung Api yang Tidak Meletus Lagi Sudah Mati
Secara umum, masyarakat menilai gunung “mati” ketika tak lagi mengeluarkan letusan selama ratusan tahun. Padahal, ketenangan vulkanik tidak berarti kepunahan geologis. Gunung api bekerja dalam skala waktu yang sangat panjang, jauh melampaui usia manusia atau catatan sejarah.
Banyak gunung di Indonesia yang dianggap sudah padam ternyata masih memiliki potensi aktivitas. Misalnya, Gunung Tangkuban Parahu di Jawa Barat sempat dianggap tenang selama puluhan tahun, lalu tiba-tiba meletus kecil pada 2019. Begitu pula Gunung Tambora, yang pada abad ke-15 tampak sunyi sebelum akhirnya memicu salah satu letusan terdahsyat dunia pada 1815.
Artinya, gunung api tidak pernah benar-benar “mati”, hanya beristirahat — menunggu tekanan di dalam bumi mencapai titik lepasnya.
Fakta: Gunung Api Bisa Tertidur, Tapi Tidak Mati
Menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), status gunung api dibagi menjadi tiga: aktif, tidur (dorman), dan mati (extinct). Namun kategori “mati” dalam geologi bukan berarti benar-benar hilang potensi letusan, melainkan tidak menunjukkan aktivitas vulkanik selama puluhan ribu tahun dan tidak memiliki suplai magma baru dari dalam bumi.
Namun di Indonesia, yang terletak di pertemuan tiga lempeng besar — Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik — suplai magma sangat dinamis. Karena itu, ahli geologi menilai sangat sedikit gunung di Nusantara yang benar-benar bisa disebut mati.
Peneliti vulkanologi ITB, Dr. Devy Kamil Syahbana, menjelaskan bahwa struktur geologi Indonesia membuat aktivitas magma terus berlangsung di kedalaman, bahkan di bawah gunung yang tampak tenang.
“Kita tidak bisa menganggap gunung mati hanya karena diam seribu tahun. Dalam waktu geologis, itu hanya ‘napas pendek’,” ujarnya dalam seminar Geoscience Indonesia 2024.
Kasus Gunung yang “Bangkit dari Tidur”
Contoh paling nyata adalah Gunung Sinabung di Sumatera Utara. Sebelum erupsi tahun 2010, gunung ini dianggap tidak aktif selama lebih dari 400 tahun. Warga di sekitarnya bahkan tidak memiliki cerita rakyat tentang letusan. Namun, tanpa peringatan, Sinabung meletus hebat dan memaksa ribuan orang mengungsi.
Fenomena serupa juga terjadi pada Gunung Colo di Pulau Una-una, Sulawesi Tengah, yang meletus besar pada 1983 setelah lebih dari satu milenium tenang.
Kasus-kasus ini menunjukkan bahwa gunung yang tampak “mati” sebenarnya hanya “tertidur”, dan ketika tekanan magma meningkat, ia bisa “bangun” kapan saja.
Dalam ilmu vulkanologi, istilah reawakening volcano digunakan untuk menggambarkan gunung yang hidup kembali setelah periode dormansi panjang. Di Indonesia, potensi seperti ini sangat tinggi karena aktivitas tektonik bawah tanah yang terus berlangsung.
Mengapa Gunung Sulit Benar-Benar Mati?
Gunung api terbentuk karena adanya jalur magma yang menembus kerak bumi. Untuk bisa “mati total”, jalur itu harus tertutup permanen atau suplai magma dari dalam mantel bumi berhenti sepenuhnya. Namun kondisi seperti itu sangat jarang terjadi, terutama di zona subduksi aktif seperti Indonesia.
Selama lempeng samudra masih menunjam ke bawah lempeng benua, panas dan tekanan di kedalaman akan terus menciptakan cairan magma baru. Akibatnya, gunung-gunung tua pun bisa mendapat “pasokan ulang” energi vulkanik.
Ahli geofisika dari LIPI (kini BRIN), Prof. Surono, menyebut bahwa di Indonesia hampir tidak ada gunung yang benar-benar punah secara geologis.
“Yang disebut gunung mati itu lebih pada istilah praktis masyarakat. Secara geotektonik, gunung di wilayah aktif seperti Jawa dan Sumatera tetap punya potensi vulkanik, hanya saja dormannya bisa sangat panjang,” jelasnya.
Gunung Mati Secara Ilmiah
Meski langka, secara ilmiah ada gunung yang memang dianggap mati. Contohnya adalah Gunung Sumbing Purba di selatan Jawa Tengah, yang terbentuk jutaan tahun lalu dan kini hanya tersisa dinding kaldera. Tak ada aktivitas gempa vulkanik maupun panas bumi yang terdeteksi di bawahnya.
Namun gunung seperti ini lebih banyak ditemukan di wilayah yang tidak lagi aktif secara tektonik, seperti Afrika Timur atau Amerika bagian tengah. Di Indonesia, keberadaan gunung mati murni hampir tidak ada karena proses tektonik terus memperbarui jalur magmanya.
Dengan kata lain, bahkan jika suatu gunung tampak tenang selama 10.000 tahun, bukan berarti ia telah mati — bisa jadi hanya “berpindah napas” ke jalur magma lain di dekatnya.
Bahaya di Balik Keheningan
Keheningan gunung justru seringkali menipu. Karena lama tidak aktif, masyarakat cenderung membangun pemukiman, lahan pertanian, bahkan wisata di lerengnya. Padahal, saat gunung “bangun”, dampaknya bisa jauh lebih besar karena tekanan magma sudah terakumulasi selama ribuan tahun.
PVMBG mencatat bahwa sebagian besar korban letusan besar di Indonesia terjadi di gunung yang dianggap “tenang.”
Letusan Tambora (1815), Krakatau (1883), dan Sinabung (2010) adalah contoh klasik bagaimana “gunung tidur” bisa tiba-tiba menimbulkan bencana besar.
Itulah mengapa para ahli selalu mengingatkan bahwa setiap gunung di Indonesia — baik aktif maupun dorman — harus tetap diawasi. Gunung yang tampak damai bukan berarti aman.
Kesimpulan
Mitos: Gunung api di Indonesia bisa mati total dan tidak akan pernah meletus lagi.
Fakta: Gunung api di Indonesia hampir tidak pernah benar-benar mati. Kebanyakan hanya dorman atau tertidur panjang, dan sewaktu-waktu bisa aktif kembali ketika suplai magma meningkat.
Dengan posisi Indonesia di Cincin Api Pasifik, aktivitas vulkanik adalah bagian alami dari kehidupan geologis Nusantara. Gunung boleh diam, tapi perut bumi tidak pernah berhenti bergerak.
Sebagaimana diingatkan para ahli, ketenangan bukan berarti kepunahan — hanya jeda dari siklus panjang kehidupan bumi.
Related Keywords: gunung api mati, gunung berapi aktif, letusan gunung Indonesia, aktivitas vulkanik
