Fakta vs Mitos: Semua Penyakit Turun-temurun Tidak Bisa Dicegah
Setiap kali seseorang didiagnosis dengan diabetes, kanker, atau hipertensi, sering muncul kalimat pasrah: āSudah bawaan keluarga, tidak bisa dihindari.ā
Ungkapan itu terdengar logis, tapi benarkah penyakit yang diwariskan genetik tidak bisa dicegah sama sekali?
Dalam dunia medis modern, keyakinan itu mulai dipertanyakan. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa genetik memang berperan besar, tapi bukan satu-satunya faktor yang menentukan seseorang akan sakit atau tidak.
Mitos: Penyakit Keturunan Adalah Takdir yang Tak Bisa Diubah
Banyak masyarakat masih beranggapan bahwa jika orang tua menderita penyakit tertentu, maka anak-anaknya pasti akan mengalaminya juga.
Penyakit seperti diabetes tipe 2, hipertensi, kolesterol tinggi, atau kanker payudara sering dianggap āwarisan wajibā dari garis keluarga.
Padahal, secara ilmiah, gen hanya meningkatkan risiko, bukan menentukan kepastian.
Ibarat pistol yang terisi peluru, genetik menyediakan senjatanya ā tapi gaya hidup dan lingkunganlah yang menarik pelatuknya.
Fakta: Faktor Gaya Hidup dan Lingkungan Lebih Dominan
Penelitian dari World Health Organization (WHO) dan National Institutes of Health (NIH) menunjukkan bahwa hingga 70% penyakit tidak menular lebih dipengaruhi oleh faktor perilaku dan lingkungan ketimbang genetik.
Artinya, meskipun seseorang mewarisi gen berisiko tinggi, ia tetap bisa menurunkan peluang sakit dengan menjaga pola hidup sehat.
Contohnya:
- Orang dengan riwayat keluarga diabetes bisa tetap sehat dengan menjaga berat badan, pola makan, dan aktivitas fisik.
- Risiko penyakit jantung bisa ditekan melalui pengaturan kolesterol, berhenti merokok, dan mengendalikan stres.
- Bahkan untuk kanker payudara dengan mutasi gen BRCA1/BRCA2, deteksi dini dan gaya hidup sehat terbukti memperpanjang harapan hidup secara signifikan.
Pengetahuan Genetik Membuka Peluang Pencegahan
Kemajuan teknologi memungkinkan masyarakat mengetahui risiko penyakit sejak dini melalui tes genetik.
Tes ini tidak untuk menakut-nakuti, melainkan agar seseorang bisa menyesuaikan gaya hidupnya.
Misalnya, seseorang dengan kecenderungan genetik kolesterol tinggi bisa lebih disiplin menjaga pola makan sejak muda, sementara individu yang membawa gen kanker usus besar bisa rutin melakukan pemeriksaan kolonoskopi sejak usia 30-an.
āMengetahui risiko genetik bukan berarti menyerah pada takdir, tapi memberi kita peta jalan untuk mencegahnya,ā kata dr. Ratna Dewi, SpPD, dokter spesialis penyakit dalam di Jakarta.
Kasus Nyata: Gaya Hidup Mengalahkan Gen
Studi Harvard School of Public Health (2023) meneliti lebih dari 55.000 partisipan dengan latar belakang genetik risiko tinggi diabetes.
Hasilnya, mereka yang rutin olahraga, makan sehat, dan tidak merokok menurunkan risiko penyakit hingga 60%, meskipun membawa gen yang sama dengan kelompok berisiko tinggi.
Kasus serupa terjadi di Jepang dan Korea Selatan: populasi yang secara genetik rentan hipertensi ternyata memiliki angka kejadian lebih rendah berkat diet rendah garam dan rutinitas berjalan kaki.
Pentingnya Kesadaran Keluarga
Mengetahui riwayat penyakit keluarga tetap penting ā bukan untuk menyerah, melainkan untuk mengantisipasi.
Keluarga yang sadar risiko bisa saling mendukung menjaga kesehatan, memperhatikan asupan makan, hingga memeriksakan diri secara berkala.
Langkah sederhana seperti menghindari rokok, membatasi gula, menjaga berat badan, dan tidur cukup sudah terbukti memperpanjang harapan hidup, bahkan pada mereka yang memiliki gen berisiko tinggi.
Kesimpulan
Mitos: Semua penyakit turun-temurun tidak bisa dicegah.
Fakta: Penyakit keturunan bisa dicegah atau dikendalikan dengan gaya hidup sehat, deteksi dini, dan pemeriksaan genetik.
Gen memberi āpeta risikoā, tapi Anda tetap pengemudi takdir kesehatan Anda sendiri.
Dengan disiplin, kesadaran, dan dukungan keluarga, warisan penyakit bukanlah vonis seumur hidup ā melainkan peringatan agar hidup lebih bijak.
š Sumber Rujukan:
- World Health Organization (WHO), Noncommunicable Diseases Report 2024
- Harvard School of Public Health, Genetics and Lifestyle Study (2023)
- Kementerian Kesehatan RI, Pedoman Pencegahan Penyakit Tidak Menular (2024)
