Menyiapkan Gen Z untuk Memimpin Indonesia Emas 2045
Generasi Z (lahir antara 1997–2012) kini tengah berada di titik penting dalam sejarah Indonesia. Jika di era 2045 mereka berada di usia matang produktif (sekitar 34–48 tahun), generasi ini diharapkan menjadi tulang punggung visi Indonesia Emas 2045. Oleh sebab itu, tahun-tahun sekarang menjadi fase penentu: apakah Gen Z akan siap dengan tantangan besar dan amanah besar tersebut?
Kolom opini ini mengambil sudut pandang bahwa kecakapan Gen Z harus dipersiapkan secara menyeluruh — dari sisi pendidikan, karakter, hingga kepekaan sosial — agar mereka mampu memikul tanggung jawab besar bagi masa depan bangsa. Berikut pemaparan gagasan dan rekomendasi untuk menyiapkan Gen Z menuju Indonesia Emas 2045.
Siapa Gen Z dan Relevansinya?
Gen Z kini berada dalam kisaran usia 13 hingga 28 tahun: siswa sekolah menengah, mahasiswa, tenaga kerja baru, hingga pengusaha muda. Mereka tumbuh di era digital, sehingga identik dengan keterampilan teknologi dan literasi media tinggi.
Menurut data Susenas BPS 2024, Gen Z menyumbang 24,12 persen dari kelas menengah Indonesia. Bila digabung bersama generasi milenial, mereka hampir separuh dari populasi kelas menengah nasional. Hal ini menunjukkan potensi sosial-ekonomi mereka sangat besar.
Namun di sisi lain, Gen Z hidup dalam dunia yang penuh ketidakpastian: ketimpangan ekonomi, isu lingkungan, perubahan iklim, hingga tantangan struktural dalam sistem politik dan sosial. Kesadaran akan isu-isu tersebut menjadikan Gen Z tidak hanya sebagai penonton, melainkan aktor yang kerap menyuarakan protes dan aspirasi publik.
Visi Indonesia Emas 2045: Peluang dan Tuntutan
Visi Indonesia Emas 2045 memproyeksikan transformasi besar: ekonomi maju, pemerataan sosial, pemerintahan baik, stabilitas budaya, serta daya saing global. Dalam RPJPN 2025–2045, beberapa target yang ditetapkan antara lain:
- Populasi naik dari 285 menjadi 324 juta jiwa
- Pendapatan per kapita meningkat dari 5.500 USD ke 30.300 USD
- Angka kemiskinan turun drastis
- Peningkatan proporsi manufaktur dalam PDB dari 21% ke 28%
- Kenaikan rasio kewirausahaan, daya saing digital, dan ekspor dalam struktur ekonomi nasional
Untuk mencapai semua itu, sumber daya manusia (SDM) unggul, inovasi, dan reformasi kelembagaan sangat krusial. Dan Gen Z, sebagai generasi yang akan memimpin di era ini, harus disiapkan agar tidak sekadar menjadi bagian dari perubahan, melainkan penggeraknya.
Tantangan dan Tugas Menyiapkan Gen Z
1. Memaksimalkan Bonus Demografi
Periode 2025–2030 diprediksi sebagai waktu puncak bonus demografi, saat rasio penduduk usia produktif sangat besar dibanding usia non-produktif. Untuk itu, Gen Z perlu menjadi SDM berkapasitas tinggi agar bonus itu tidak menjadi beban sosial, melainkan kekuatan produktif.
2. Mendorong Partisipasi dalam Pembangunan
Gen Z perlu diberi ruang nyata untuk berkontribusi dalam pembangunan. Bukan hanya sebagai obyek kebijakan, tetapi sebagai subjek yang mampu menghadirkan ide, inovasi, dan kritik konstruktif. Dengan cara ini, mereka bisa merasakan kepemilikan terhadap proses transformasi.
3. Memperkuat Life Skills
Kemampuan teknis saja tidak cukup. Gen Z harus dibekali soft skills seperti kecerdasan emosional, empati, komunikasi efektif, dan etika. Dengan demikian, mereka tidak hanya cakap secara profesional, tetapi juga matang secara karakter dalam menghadapi dinamika sosial dan institusional.
4. Menumbuhkan Identitas Kebangsaan
Gen Z harus tetap berakar pada nilai-nilai nasional: Pancasila, toleransi, dan semangat kebhinekaan. Meski mereka hidup dalam era globalisasi, identitas kebangsaan harus dijaga agar perubahan tidak meminggirkan jati diri bangsa.
5. Menanamkan Semangat Inovasi dan Kepemimpinan Transformasional
Generasi ini harus mampu membawa gagasan baru — tidak hanya berada di zona nyaman. Karakter Gen Z yang terbiasa berpikir disruptif harus diarahkan untuk mewujudkan reformasi institusi, memperkuat tata kelola negara, dan menciptakan model kepemimpinan baru yang responsif terhadap perubahan zaman.
Rekomendasi Strategis untuk Aksi Nyata
- Reformasi Pendidikan
Kurikulum perlu disesuaikan agar lebih relevan dengan tantangan masa depan: literasi digital, kewirausahaan, pengembangan karakter, dan keberlanjutan. Sistem pendidikan harus mengintegrasikan teori dan praktik nyata agar siswa tidak hanya pintar di kelas, tetapi siap aplikasi di dunia nyata. - Program Pengembangan Kepemimpinan Muda
Melalui organisasi pelajar, magang publik, dan program inkubasi ide, Gen Z bisa belajar langsung dalam lingkungan institusi dan pemerintahan. - Kolaborasi Pemerintah, Swasta, dan Civil Society
Sektor swasta perlu membuka peluang bagi kreativitas Gen Z. Lembaga masyarakat sipil bisa menjadi wadah advokasi dan inkubator ide. Pemerintah menjadi fasilitator dan regulator yang memberi ruang dan insentif. - Fasilitasi Akses Modal & Infrastruktur Digital
Banyak generasi muda memiliki ide kreatif tapi terhambat modal dan jaringan. Penyediaan dana start-up, platform digital, serta infrastruktur internet ke wilayah terpencil harus diperkuat. - Pengembangan Karakter lewat Pendidikan Nonformal
Organisasi kepemudaan, pelatihan soft skills, forum dialog antar generasi — semua ini penting agar Gen Z memiliki kedewasaan berpikir dan menghargai pengalaman lintas generasi.
Harapan Menuju 2045
Gen Z berada di persimpangan zaman: mereka bisa menjadi motor penggerak Indonesia Emas atau generasi yang gagal mengambil peran. Untuk itu, upaya penyiapan mereka tidak boleh setengah hati.
Melalui pendidikan yang tepat, ruang partisipasi yang terbuka, pembentukan karakter yang kokoh, dan pemupukan jiwa inovasi, generasi ini akan memiliki kapasitas untuk membawa Indonesia ke posisi strategis di pentas global. Ketika tahun 2045 tiba, Gen Z akan berada di puncak produktivitas, siap memimpin, mengambil keputusan, dan mewariskan negara yang lebih adil, makmur, dan bermartabat.

